Letjend (Purn.) Prabowo Subianto di Matakku: Izinkan Aku Jadi Muridmu, Jenderal!

Aku berasal dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terdampar di Bogor karena ingin menata masa depan yang lebih baik, yang lebih baik dari orang tuaku, yang hanya petani dan hanya lulusan SD. Aku berasal dari keluarga besar, anak kedua dari 9 bersaudara. Dan orang tuaku merasa tidak mampu membiayaiku sekolah hingga SMA. Sehingga bagaimana caranya aku harus beusaha sendiri, sampai aku lulus sarjana. 

Reformasi tahun 1998, kalau itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA di Kabupaten Bogor. Gegap gempita dan euforia reformasi begitu membahana di seluruh penjuru negeri. Masyarakat yang selama ini terkekang oleh kekuasaan Orde Baru merasa mendapatan angin segar dengan lengsernya Presiden Soeharto, yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Sebagai anak sekolah menengah, aku terkagum-kagum dengan salah satu guruku yang merupakan ketua Senat Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Bogor. Beliau dengan semangat berapi-api selalu meneriakkan reformasi. Kami pun ikut terbakar semangat untuk turun menjadi bagian sejarah itu.

Sebagian dari kami pun ikut turun ke Senayan, meneriakkan yel-yel turunkan Soeharto. Jakarta sangat mencekam. Kerusuhan di mana-mana. Penjarahan di mana-mana. Para etnis Tionghoa ketakutan dan kabur ke luar negeri, menyelamatkan diri dari beringasnya massa kala itu. 

Korban berjatuhan, baik dari kalangan mahasiswa, aparat, maupun warga sipil yang melakukan penjarahan. Jakarta benar-benar mencekam, sangat mencekam.

Tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya. Mahasiswa dan rakyat Indonesia menang. 

Juli 1998, aku dinyatakan lulus SMA dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Agustus 1998, aku berangkat ke Semarang untuk melanjutkan studi. Sampai di sana ternyata euforia reformasi sangat terasa. Mahasiswa masih terus melakukan demonstrasi menuntut pengadilan HAM atas kerusuhan yang terjadi. Dan aku pun ikut dalam bagian itu.

Pada saat itulah aku tahu bahwa yang paling dituntut atas pelanggaran HAM 1998 adalah Letjend Prabowo Subianto, salah satu perwira tinggi ABRI bintang 3 kala itu, yang pada saat reformasi Prabowo Subianto menjadi Panglima Kostrad.

Aku tidak kenal siapa Prabowo Subianto sebelum itu. Namun, para senior di kampusku dan juga kampus-kampus lain selalu meneriakkan nama itu. 

Aku bukan aktivis kelompok mahasiswa tertentu, sehingga aku pun ikut ke sana kemari: HMI, KAMMI, IMM, dan lain-lain.

Pada saat itulah aku mendapatkan selebaran tentang siapa-siapa yang dituduh sebagai pelaku pelanggaran HAM pada kerusuhan, dan juga selebaran-selebaran yang menceritakan kronologi reformasi serta keterlibatan taipan asal Amerika, George Sorros dan IMF. 

Ada banyak nama yang memang diincar dalam reformasi itu, khususnya para "jenderal hijau" yang salah satunya adalah Prabowo Subianto.

Sejak saat itu, aku pun mencari lebih detail siapa sebenarnya Prabowo Subianto, apa latar belakang keluarganya, bagaimana karirnya,, dan semua yang berkaitan dengan Prabowo Subianto.

Dari informasi yang aku dapatkan, adalah hal yang sangat wajar bila beliau menjadi target penyingkiran. Selain kedekatannya dengan umat Islam, ternyata Prabowo Subianto adalah salah satu anggota TNI (ABRI) kala itu yang sangat cemerlang karirnya. Orang yang sangat bertanggung jawab terhadap institusi, terhadap negara, terhadap atasan, juga terhadap bawahan. Beliau sangat dicintai oleh bawahan dan masyarakat, tetapi sangat dibenci oleh rekan-rekannya dan atasannya, khususnya di luar barisan ABRI hijau. Sehingga bagaimana caranya beliau disingkirkan.

Adalah hal yang sangat tidak logis, manakala terjadi kerusuhan dan pelanggaran HAM, mengapa hanya Prabowo yang tertuduh bahkan sampai hari ini Prabowo Subianto tetap menjadi tertuduh, meskipun adanya investigasi yang membuktikan TIDAK ADA keterlibatan  Letjend Prabowo Subianto. Yang menjadikan aneh lagi, justru mengapa bukan pimpinan puncak ABRI kalau itu, Jenderal Wiranto, yang mestinya sebagai orang yang paling bertanggung jawab?

Dari sini sudah jelas pasti ada konspirasi di balik itu. Itu kesimpulanku. Dan sejak saat itu aku pun terus memperhatikan gerak-gerik Jenderal (tersingkir) ini. 

Bukan hanya dilepas dari jabatannya, Prabowo Subianto juga diberhentikan dari karir kemiliterannya. Dan tidak sampai di situ, beliau dituduh sebagai dalang kerusuhan dan pelanggaran HAM berat reformasi 1998. 

Yang lebih menyakitkan lagi, mertuanya, Jenderal Soeharto pun mempercayai fitnahan atasnya, sehingga Letjend Prabowo Subianto pun di usir dari keluarga Cendana.

Bayangkan jutaan rakyat Indonesia menghujatnya. Teman-temannya di kemiliteran menyingkirkannya. Datang ke mertuanya diusirnya. Hancur luluh hati berkeping-keping. Mungkin jika aku yang mengalami sudah setres, sudah masuk RSJ. Aku salut padamu Jenderal.

Dalam kondisi seperti itu, beliau hanya hidup dari uang pensiun yang tidak seberapa. Bumi Indonesia terasa begitu panas, cacian, makian, dan fitnahan terus mendera. Terluka tiada terkira. Ke mana ia akan mengadu? Bangsa Indonesia yang dicintainya menghujatnya, termakan oleh isu pelanggaran HAM, padahal pernahkah mereka menyaksikan Prabowo memerintahkan atau melakukan? Mengadu ke mertuanya? Jangankan mengadu, baru datang saja pun ditampar dan diusir.

Ke mana lagi ia harus mengadu?

Berbekal pesan ayahandaya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, “Sekarang kamu dijadikan sasaran macam-macam. Jangan harapkan teman-teman kamu sendiri akan membantu. Orang yang berhutang budi terhadap kamu pun bakal meninggalkan kamu. Tapi dalam keadaan segelap apapun, niscaya masih ada orang-orang baru yang akan membantu. Jadi harus tabah. Jangan menjadi dendam. Ini kehidupan, hadapilah”, ia pun melangkahkan kaki menuju dan mengadu kepada Sang Pencipta.

Allah SWT. Ya, Prabowo Subianto sebagai seorang muslim masih memiliki Allah SWT, Tuhan tempat bergantung terhadap segala sesuatu. Ia pun bersimpuh, meluahkan duka lara di hadapan-Nya di tanah suci Makkah. Allah SWT tempat mengadu bagi apapun permasalahannya. 

Seluruh rakyat Indonesia dan teman-temannya tak ada satu pun yang peduli. Adalah sahabat karibnya ketika belajar di Amerika, Pangeran dari Yordania, yang kini menjadi Raja Yordania, demi mengetahui keadaan sahabat baiknya itu, lalu menghubungi, "Prabowo, I am your friend. What can I do for you, my friend?"

Ya, dialah satu-satunya teman yang peduli. Ia menetap sementara di Yordania meredam luka, membangun bisnis. Namun kecintaannya pada negeri ini, kepada rakyat Indonesia, kepada tanah kelahirannya, membuatnya kembali untuk membangun bangsa.

Jenderal.... keteguhanmu telah memikat hatiku. Jutaan orang telah engkau inspirasi dari perilakumu, sifat santunmu, dan keteguhanmu menghadapi fitnahan yang teramat sangat keji.

Jenderal, aku malu ketika aku ingat masa laluku. Tahukah engkau Jenderal, aku pun mengalami serupa denganmu, hanya kadarnya bak setetes air di tengah Danau Toba dibandingkan beban dan penderitaanmu. 

Jenderal, dulu, 2007, aku berbahagia ketika aku memiliki istri yang aku cintai, istri yang begitu cantik di mataku. Aku makin bahagia manakala putraku lahir, 2008, gagah. Karena tugas, aku dan istriku terpaksa berpisah, selain karena memang paksaan orang tua istri untuk tetap di kampung halamannya, dan istri memilih itu, menolak ikut bersamaku.

Aku rela berbulan-bulan tidak pulang demi komitmenku pada orang yang telah berjasa menyekolahkanku, membiayai kuliahku untuk mengabdi, meskipun tanpa hitam di atas putih, meskipun dengan gaji yang sangat-sangat tidak layak, bahkan untuk hidupku sendiri, apalagi untuk memberi nafkah anak dan istriku.

Jenderal, 2010, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, memilih pulang meskipun aku harus jadi tukang ngarit, agar bisa berkumpul dengan anak dan istriku. Namun, betapa terkejutnya aku manakala aku harus pulang dengan tangan hampa. Gaji terakhir tidak diberikan kepadaku, Ijazah SMA dan sarjanaku yang ditahan, tidak diberikan. Aku terluka, aku pun menangis, tetapi, ijazah dan gaji tidak lebih penting dari keluargaku. Kini aku hanya lulusan SMP. Aku pun pulang.

Dan betapa lebih terluka lagi manakala istriku sudah tidak mau disentuh. Istriku telah berubah. Aku bak anjing kurapan. Aku dimaki, aku dibentak, terusir dari rumah itu. Seluruh keluarganya pun melakukan yang sama. Apakah karena aku pulang tak bawa apa-apa? Entahlah.

Aku melihat istriku aneh. Ternyata ada pria lain di hatinya, dan itu didukung oleh seluruh keluarganya, karena pria itu dari keluarga kaya. Aku terluka, Jenderal. Dua bulan lamanya hampir seperti orang gila. Menangis, meratapi nasib. Aku manusia tidak berguna. Aku hanya lulusan SMP, aku orang paling menderita di dunia. Aku tidak punya apa-apa, dan tidak punya siapa-siapa yang mengerti. Kota Semarang menjadi saksi saat aku harus jalan pagi, siang, dan malam tanpa tujuan. Dua bulan lamanya.

Tetapi semua sudah terlewati, Jenderal... Kini aku telah belajar banyak darimu. Engkau sosok pemimpin, orang tua, dan contoh hidup bagiku. Aku tidak bisa membayangkan betapa duka laramu. Karirmu yang begitu cemerlang, ringan tanganmu pada kawan-kawanmu, hormatmu pada mertuamu, cintamu pada anak buahmu, rela berkorban nyawamu demi bangsa dan negara, semua musnah sia-sia. Kau dikucilkan. Jika aku di posisimu, niscaya sudah bunuh diri.

Tetapi tidak bagimu, Jenderal. Legowomu, pemaafmu, dan segala kemuliaan hatimu, telah membuat diriku malu. Dulu aku begitu dendam dengan mantan istriku, aku begitu dendam dengan keluarga istriku, kini hilang. 

Aku telah banyak belajar darimu, Jenderal. 

Di mataku, engkaulah sosok pemimpin sejati, engkaulah teladan hidup yang bisa aku jadikan contoh. 

Mungkin engkau tidak mengenalku, dan tidak akan pernah mengenalku, tetapi aku sangat mengenalmu, dan izinkan aku angkat engkau jadi guru kehidupanku, setelah Rasullah SAW dan para sahabatnya. 

Doaku selalu menyertaimu, Jenderal! 


 Bogor, 21 Oktober 2014