Selamat Jalan, Bapak. Aku Memaafkanmu!

Dengan tertawa lebar Yono bercerita tentang calon mertuaku.

"Tahu gak, setiap kali ketemu orang Pakdhe Slamet selalu dengan bangganya mengatakan, "Anakku sarjana sastra Inggris". Dan itu selalu diberitahukan pada semua orang yang ia temui."

"Yang benar saja?" tanyaku singkat.

"Bener. Pakdhe selalu membawa pembicaraan ke arah itu."

Ternyata calon mertuaku ini benar-benar membanggakanku  sebagai seorang sarjana sastra Inggris. Aku heran apa yang membuat beliau amat bangga dengan gelarku ini. Ah mungkin karena di kampungnya belum ada sarjana. Terdengar di telinganya barangkali gelar ini sangat-sangat wah. 

Ah sudahlah, itu bukan hal penting. Yang paling penting adalah bahwa aku mencintai anaknya, calon istriku.



Lima bulan kemudian, tepatnya tanggal 13 Mei 2007, pernikahan besar-besar diadakan. Aku datang disambut bak pahlawan yang menang dari perang. Gagah sekali. Semua mata tertuju padaku. Aku mengenakan kaos oblong, celana jeans, dan sepatu kets, langsung disambut dengan sebuah kendi yang diserahkan padaku. Aku bingung apa yang harus kulakukan. 

Yono pun angkat bicara.

"Sen, banting itu kendi sampai pecah!" teriaknya.

Tanpa basa-basi langsung kubanting keras-keras takutnya tidak pecah.

"Brakkk!!!" kendi pun pecah. Air muncrat ke mana-mana terutama ke wajah calon mertuaku. Semua orang pun tertawa. Kudengar ada bisikan kata yang menggelitikku, "Iki mantene edan." Aku pun tersenyum dalam hati.

Aku didandani bak ketoprak. Gagah sekali. Kulirik mertuaku ini tersenyum bangga, seolah mengatakan pada semua orang "Ini lho mantuku hebat, seorang sarjana sastra Inggris dari salah satu universitas negeri di Indonesia." Mertuaku ini menang.

Hari pun berlalu. Usia bulan madu, aku harus kembali ke luar kota, melanjutkan pekerjaanku. Masa cutiku sudah habis.

Aku bangga sekali memiliki istri yang cantik, lembut, dan masih muda. Ia masih kuliah waktu itu, sambil mengajar di salah satu SD. Meskipun jauh hubungan kami sangat mesra.

Waktu berlalu. Beberapa bulan kemudian, istriku pun mengandung buah cinta kami. Di usia kandungan 3 bulan, istriku lumpuh. Setiap hari muntah darah, baik kental maupun segar. Tidak ada asupan sedikit pun. Aku pun cuti kerja selama sebulan hanya untuk mengurusi istriku. Ke mana pun pergi aku harus menggendongnya. 

Wajahnya pucat pasi. Badannya kurus kering. 

Suatu pagi, setelah minum susu, istriku langsung muntah darah. Kutatap wajahnya lekat-lekat. Aku pun meneteskan air mata.

Istriku bertanya, "Kenapa menangis mas? Aku tidak apa-apa kok. Aku pasti sembuh," sambil tersenyum dipaksa.

"Aku sayang kamu Nok. Aku sayang kamu selamanya. Apapun kondisimu aku sangat menyayangimu. Aku ingin kau cepat sembuh," jawabku sambil terasa sesak dadaku.

Aku rawat istriku sampai sembuh. Kubawa ke rumah sakit. Kurawat dengan cinta hingga sembuh.

Istriku sembuh. Hari berlalu. Enam bulan kemudian putraku lahir. Tampan seperti aku. Aku bingung mau kukasih nama apa. Constantine Abdullah. Iya nama itu rasanya bagus untuknya.

Namun ada kendala. Ketika itu aku tidak punya uang sepeser pun. Aku pun harus menutup wajahku saat aku bilang pada bidan yang menangani kelahiran istriku. Aku malu. Aku tidak punya uang sepeser pun. Rokok pun aku minta pada temanku.

Hari-hariku sangat bahagia. Aku berjuang, bekerja kerjas, semakin keras untuk masa depan keluargaku. Semakin hari anakku pun semakin besar. Ia sudah mulai mengerti mainan. Ia minta dibelikan mobil-mobilan, minta dibelikan sepeda. Ah bahagianya.

Dua setengah tahun berlalu. Di tempat kerjaku yang super-super parah seperti robot, di mana aku harus berangkat pagi pulang petang dengan gaji yang sangat tidak layak, sementara aku harus memikirkan susu anakku juga memberi nafkah anakku. Belum lagi beban kerinduan manakala aku menelepon anakku, dan dia selalu menanyakan, "Bapak, sedannya di mana?" 

Terasa teriris hati ini. Aku tidak mungkin bisa membeli sedan. Jangankan sedan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun aku tidak mampu. Malu. Sarjana Sastra Inggris tidak mampu memberi nafkah layak pada istriku dan anakku. Menangis batin ini. 

Juli 2010 aku pun memilih mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku, dan aku mencari pekerjaan ke sana kemari. Tiga bulan berlalu aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang layak. Dapat pekerjaan tetapi jaminan ijazah terakhir, sementara ijazah terakhir ada di tangan bosku, tidak bisa kubawa. Pedih.

Aku putuskan pulang ke kampung berkumpul dengan istri dan anak. September 2010 aku pun pulang. Terkejut. Istriku yang dulu pernah bersumpah setia, bahkan jika ada orang kaya yang membawa emas segunung, atau orang tampan seperti Nabi Yusuf tidak akan pernah berpindah hati, tapi kini istriku berubah.

Ia tidak lagi mau disentuh. Aku dibentak-bentak seperti anjing kurapan. 

"Sarjana sastra Inggris yang bodoh tidak berguna," pikirku dalam hati.

"Mas, mau puasa gak, sahur. Nasinya ada di magic com, sayurnya hangatkan sendiri, ada di almari, dan bikin teh sendiri. Aku ngantuk," begitu istriku membangunku saat puasa. 

Batin ini sakit sekali. Istriku sudah berubah. Dulu ia selalu menyiapkan santap sahurku saat aku masih tidur, selalu mempersiapkan santapan bukaku, tapi kini begitu dinginnya aku harus menyiapkan semua sendiri. Tidak ada lagi canda tawanya yang indah. Aku tidak lagi gigi gingsulnya tersungging di pipinya. Sakit.

Ternyata itu pun tidak hanya dilakukan oleh dirinya sendiri, seluruh keluarganya pun memperlakukanku serupa. Apakah karena aku jadi pengangguran terus aku diperlakukan begini. Bahkan pernah suatu kali istriku bilang padaku, "Mas, aku sekarang jadi benci sama kamu."

Ya Allah, apa yang salah padaku, mengapa demikian jadinya. Istriku yang lembut, yang hangat jadi berubah begini. Seminggu aku bertahan,, aku pun tidak kuat. Aku putuskan pulang ke rumah orang tuaku di kabupaten lain.

Ketika ditanya orang tuaku, aku pun menjawab, "Widya dan Constantine sementara ingin lebaran di sana Pak. Dan aku pengin ikut derep di sini pak, lumayan bisa untuk tambah-tambah biaya hidup anak dan istri," jawabku menutupi.

Hari pun berganti. Bapak nampaknya curiga melihat sikapku. 

"Sebenarnya ada apa Sen? Nampaknya ada masalah dengan keluargamu di sana?" tanya bapak penuh selidik.

"Gak ada apa-apa Pak. Kami baik-baik saja," jawabku lirih.

Aku pun derep (memanen padi di sawah). Orang-orang di kampungku pun heran, mereka menggunjingku. "Percuma sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi petani juga," bisik beberapa tetanggaku.

Tetapi aku pun diam. Aku tidak peduli, yang penting halal untuk anak dan istriku.

Pagi hari aku berangkat dan sore hari aku baru pulang. Lumayan rata-rata sehari aku dapat satu karung gabah hasil derep padi. 

Menjelang masa panen berakhir, aku sangat terkejut saat aku dapati sms gelap dikirimkan padaku.

"Kalau punya istri itu dijaga, ditunggui, jangan sampai dikeloni orang," bunyi sms itu.
"Maaf, ini siapa ya?" jawabku.

Ia tidak menyebutkan namanya. Tetapi ia bercerita panjang lebar tentang perselingkuhan istriku. Istriku sudah biasa menginap di rumah orang, berselingkuh. Panas juga hati ini. Tetapi aku masih belum percaya. 

Aku tidak bisa tidur. Tetapi apakah mungkin, karena sifat istriku sudah berubah. Dulu setiap saat dia selalu sms, telepon, tapi sekarang jangankan balas sms, ditelepon pun gak pernah diangkat, alasannya sibuk. 

Hari terus berjalan. Aku galau segalau-galaunya, karena tanda-tanda itu semakin jelas. Tapi jika aku pulang ke rumah istriku tidak membawa uang aku pun malu. Aku ngebut. 

Tepat panen berakhir, aku mendapatkan gabah 8 kwintal. Aku jual. Separuh kukirim utnuk anak dan istriku sementara separo lagi aku buat ongkos ke Lampung mencari mbahku yang belum pernah ketemu seumur hidup. 

Di Lampung 10 hari, aku pun pergi ke Semarang, mencari pekerjaan. Aku diterima di sebuah perusahaan international forwarding yang menangani ekspor impor. Super sibuk sekali kegiatanku. Di bagian dokumen bill of lading, aku jarang sekali pulang ke kos. Hampir 24 jam sehari 7 hari seminggu aku di kantor. Pekerjaan sangat banyak. 

14 Februari 2011 aku putuskan untuk pulang. Aku telepon istriku bahwa besok aku akan pulang. 

"Jangan besok mas, Constantine mau diajak jalan-jalan sama Mbah," katanya memohon.

Tetapi aku sudah tidak tahan. Aku rindu sekali pada Constantine putraku. Aku pun pulang dengan meminjam sepeda motor temanku.

Terkejut. Saat aku sampai rumah. Dingin sekali. Jam sudah menunjukkan waktu pukul 22. Aku pun langsung masuk kamar memeluk anakku. Istriku yang tadinya sudah tidur  segera bangun, dan pindah tempat. 

Ponselnya ternyata tertinggal. Di situlah semua terbongkar. Ternyata benar bahwa istriku selingkuh. Di smsnya sangat mesra sekali. Ternyata sudah biasa ngalor ngidul bersama. Dhani Ariwibawa namanya. Mereka sudah memanggil mama dan ayah satu sama lain. Selalu mengatakan rindu dan kangen.

Aku panggil istriku "Nok, sejauh apa hubunganmu dengan Dhani?"

Dengan ketus ia menjawab, "Hanya teman biasa."

"Hanya teman biasa?" tanyaku.

Aku tunjukkan HP. Ini bukti semuanya. Mukanya pucat pasi. Dia pun berusaha merebut HP itu dari tanganku. Aku dipukulnya. Bajuku ditarik hingga sobek. 

"Ternyata benar apa yang aku rasakan. Ternyata benar apa yang dikatakan orang. Kenapa kamu sebegitu teganya No?" tanyaku sambil meneteskan air mata. Hati ini terasa sangat sakit. Sakit lagi manakala membayangkan Constantine harus memiliki ayah tiri.

Gaduh. Mertuaku pun pulang dari main di rumah tetangga. Pak Slamet Rahayu namanya. 

"Pak, ternyata Widya benar selingkuh. Di sini semuanya ada Pak," aku bilang sama bapak mertuaku.
"Sing sabar kowe Sen. Wis istirahat dulu," kata bapak mertuaku tanpa ekspresi bersalah.

Aku heran mengapa Pak Slamet, mertuaku  yang dulu gembar-gembor bangga, yang selalu mengatakan, "Kalau Widya macem-macem kugantung di bawah pohon pinus" dan itu dikatakan pada semua orang, kini begitu lemahnya. 

Aku tidak tahan. Anakku pun ikut menangis. Satu kata-kata terakhir yang kubisikkan pada anakku, "Nak, bapak menyayangimu selamanya."

Pukul 02.00 aku pun keluar, dengan mengendarai sepeda motor aku langsung melaju di Pantura menuju ke Kota Semarang. Dengan air mata yang terus menetes. Kepalaku pusing. Pikiranku kalut. Sebegitukah balasan pengorbananku? Hanya karena aku sedang tidak punya uang kemudian aku ditendang? Bahkan mertuaku yang dulu membangga-bangagakanku pun sekarang mendukung?

Dua bulan lamanya aku seperti orang gila. Aku keluar dari pekerjaan. Aku jarang makan. Kerjaku hanya minum kopi dan merokok. Jarang tidur. Aku sulit menerima kenyataan bahwa istriku selingkuh, juga seluruh keluarganya pun mendukung perselingkuhan itu.

Dua bulan setelahnya aku bertemu sahabatku. Aku dinasihatinya panjang lebar. Kemudian aku dibimbingnya sehingga aku "sadar" bahwa apapun daya upayaku kalau Allah mengendaki lain pun percuma. Dan itu terbukti. 

Pak Slamet meneleponku. Ia marah besar, mengajak ketemuan di mana pun tempatnya. Ia ingin aku segera mengurus perceraian itu. Sakit luar biasa. 

Aku katakan padanya, "Kalau bapak butuh, silahkan bapak datang ke sini. Aku tidak mau datang ke situ. 

Semakin marahlah ia. Pengacara paling mahal pun dibayarnya supaya segera tuntas perceraianku. Hatiku pun makin sakit. 

Tidak ingin mendengar kabar tentang sepak terjangku juga mertuaku yang semakin menyakitkan, aku menutup semua akses di mana aku mungkin mendengar info tentang istriku dan keluarganya. Aku ganti nomor HP, aku blokir semua teman-teman Facebook. Aku setting privacy Facebook-ku, yang tidak berteman denganku tidak bisa mengirimkan pesan. Ketika ada orang menambahkanku sebagai teman, aku lihat dulu. Jika ada kemungkinan akses ke sana, langsung kublokir. 

Waktu terus berlalu. Aku semakin tenggelam dengan rutinitasku. Tetapi bayangan pengkhiatan istriku terus saja menghantui. Aku sering memimpikan istriku saat ia selingkuh. Hatiku semakin sakit. Aku seperti diburu setan. Takut sekali. Mengerikan sekali. 

Sebulan, dua bulan, dan bulan berlalu, tahun pun berganti. 

Sore itu, Selasa 27 November 2012, aku membuka akun Facebook. Aku kaget setengah mati saat membaca pesan dari adikku yang bunyinya, "Kang, bapaknya Mbak Widya meninggal dunia."

Tetapi aku kemudian tertutup oleh rasa sakit. Ah meninggal itu sudah biasa. Aku pun abaikan. Tetapi adikku kemudian sms lagi, "Constantine kangen sama Kakang. Dia selalu menanyakan terus."

Air mataku meleleh. Aku rindu pada anakku, yang setahun lebih aku tinggalkan. Bukan aku tidak rindu pada putraku, aku sangat rindu. Aku sangat kangen. Tetapi rasa sakit ini, rasa sakit dicampakkan, rasa sakit dihina dina luar biasa sakitnya. 

"Kamu dapat kabar dari mana?" tanyaku pada adikku.

"Aku dapat kabar dari sepupunya Mbak Widya," jawabnya singkat. 

Lalu aku pun meminta nomor ponselnya dan aku hubungi. Aku berharap bisa berbicara dengan putraku. 

"Om, Mbahe Constantine selalu menanyakanmu setiap kali sebelum meninggal," katanya.

"Yang benar kang?" tanyaku gak percaya.

"Benar Om. Mungkin ada pesan yang ingin disampaikan, tapi aku tidak tahu apa pesannya itu," jawabnya.

Aku pun segera meluncur ke lokasi. Sebelum aku sampai, aku telepon temanku dulu. Dia bercerita panjang lebar. 

Ternyata setelah kepergianku, dan seiring waktu, mertuaku itu sangat menyesal. Dia sangat menyesal. Anaknya sudah menendangnya. Ia sudah tidak di rumah selama 4 bulan, pergi dari rumah. Ditendang oleh anaknya juga menantunya yang baru. Omongannya menyakitinya. 

Ia berkata, "Seno itu sudah aku sakiti berulangkali, tetapi tidak pernah sekalipun baik tindakan maupun ucapan yang pernah menyakitiku," ditirukan sahabatku itu.

"Aku sangat menyesal Yon. Sekarang aku lagi sakit. Nanti kalau aku sembuh, aku akan bawa Constantine dan kucari Seno ke mana pun ia berada akan kucari. Biar kubesarkan Constantine bersamanya. Aku akan ikut bersama Seno membesarkan Constantine," imbuh sahabatku mengikuti ucapan mendiang mertuaku.

Hatiku teriris. Dendam yang selama ini terpendam luruh. Hilang. Betapa ia sangat menyesal. Allah saja Maha Pengampun. Maka betapa sombongnya aku jika aku tidak memaafkan beliau. Dan lagi beliau sangat mempercayaiku, bahkan saat aku bukan lagi menjadi menantunya. 

Tanggal 28 pagi aku sampai di rumahnya. Mantan istriku sangat terkejut. Wajahnya pucat pasti. Dia menyalamikku. Menyapaku, tetapi aku diam. Kemudian aku pergi ke rumah tetangga.

Aku pun kembali dikejutkan hal-hal yang tidak kuduga sebelumnya. Seluruh tetanggaku langsung berbondong-bondong menemuiku.

"Sabar ya Om. Bekas istri ada, tetapi tidak ada bekas anak," itu ucapan salah satu tetangga.

Dan semua tetanggaku menceritakan yang sama seperti yang diceritakan Yono sahabatku, bahwa mendiang mertuaku benar-benar mencariku. Terus mencariku hendak meminta maafku juga menyerahkan putraku.

Sesak dada ini begitu mendengar detik-detik kematiannya pun masih sempat memanggil namaku. 

Setelah itu, aku datang ke makamnya. Aku maafkan semua, bapak. Engkau memang bukan bapak kandungku, tetapi jiwamu mulia Pak. Selamat jalan bapak. Andai engkau masih hidup, dengan pintu terbuka kusambut engkau bapak. Anakku sudah memaafkanmu Pak. Semoga engkau damai di syurga sana. 

Kelak, insya Allah anakmu akan mengunjungi tempat peristirahatan terakhirmu lagi. Dan anakmu bukan tanggung jawabku lagi. Maafkan aku, mungkin aku tidak bisa mendidik anakmu Pak.

"Selamat jalan Bapak. Selamat jalan! Semoga Allah menjemputmu dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya."