Cerpen Sedih: "Kata-Kata Terakhir untuk Ibu"

Satu hari, seorang gadis, Intan namanya, yang berusia 15 tahun, baru pulang dari sekolah dengan suasana hati yang tidak enak. Dia barusan beradu mulut dengan kawan baiknya hingga pertemannya beakhir dengan tidak baik. 

"Intan! teriak ibunya. "Kamu kenapa? Kamu tahu pekerjaan rumah apa yang harus kamu kerjakan jika kamu sudah pulang! Dan Kamu terlambat!"

"Iya, aku pulang Ma!" teriak Intan, berdiri dan bergegas menuju ke dapur. 

"Apa?" sembari menatap ibunya yang mentapnya dengan tatapan galak. Intan jengkel. 

"Kamu itu harus benarkan sikapmu, Intan," ibunya memperingatkan, "atau kamu tidak akan dianggap."

"Terserah!" sahut Intan dengan nada tinggi. 

Intan pun mulai melempar perkakas yang ada di tempat cuci piring, mencoba membuat suara sebising-bisingnya. Satu piring pecah dan melukai tangannya. Intan kualat.

"Intan!" teriak ibunya. "Kamu kok bisa ngomong begitu! Masuk ke kamarmu!"

"Gak!" Intan berteriak menjawab, sambil melemparkan handuk yang ia gunakan untuk menyeka darah yang mengalir dari tangannya. 

"Kamu mau bilang "gak" sekali lagi dan kau tahu apa yang akan terjadi?" tanya ibunya. Dia terlihat geram.

"Tentu," Intan pun berkata dengan nada sinis. "Gak!"

"Berani sekali kamu Intan!" Ibunya menamparnya. 

Intan terbelalak, menatap ibunya heran. Ibunya tak pernah memukulnya sebelumnya. 


"AKU BENCI IBU!" Intan berteriak kencang sebelum lari keluar rumah. 

"Intan, kembali!" teriak ibunya, berlari mengejarnya. 

"Biarkan aku sendiri!" teriak Intan keras-keras, sembari berlari menyebrang jalan.

"Aku benci Ibu!" teriaknya lagi lebih keras. 

Intan terus berlari hingga mendengar bunyi berdecit ban mobil dan sebuah teriakan. Ia menoleh, berharap itu bukan yang ia pikirkan...

Orang pun berkerumun mengelilingi ibunya Intan, yang terlentang di tengah jalan, terluka parah, dan berdarah-darah. 

"TIDAAAKKKKK!" Teriak Intan, berlari mendekat dan mendorong semua orang dan bersimpuh di dekat ibunya. 

"Oh tidak... oh tidaakk....!!!"

Ibunya tak bergerak maupun bernafas. Ibunya telah tiada. Intan lunglai dan hatinya terkoyak amat sakit. 

Ia tak percaya kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepada ibunya adalah "Aku benci Ibu."