Aliran Sesat Baru Muncul di Pekalongan

Aliran sesat dalam Islam sudah bermunculan sejak awal-awal kejayaan Islam. Banyak orang yang mengaku nabi, rasul, dan mendapatkan wahyu. Dan itu terus bermunculan. Kabar terakhir adalah aliran sesat yang muncul di Pekalongan. 

Detik.com memberitakan bahwa fenomena mengagetkan ini terjadi di Kabupaten Pekalongan, di mana seorang guru SD bernama Sri Hartati mengaku mendapatkan wahyu sejak tahun 2010 lalu.

Pengalaman spiritual yang dialami Hartati terjadi sejak tahun 2009 lalu saat ia sakit. Di tangan, punggung, dada, dan kepalanya muncul tulisan berbahasa Arab. Kemudian suaminya menyalinnya ke dalam tulisan Latin. Seluruh catatan itu kemudian dibukukan dijadikan kitab. Kitab hasil catatan "wahyu" itu kemudian diberi nama Kita Nas'um. 

Terbongkarnya aliran sesat ini ketika banyak warga yang datang untuk berobat ke Sri Hartati di Karangdadap, Pekalongan. Banyak sembuh, sehingga laris. Setiap pasien yang berobat lalu diberi fotokopi kitab yang ia susun bersama suaminya. Pengobatan yang ia lakukan gratis, sehingga semakin banyak yang datang ke rumahnya. 

Dikutip dari taufiq.net, ada penyebab munculnya aliran sesat di Indonesia, yakni:

1. Karena mencari hidayah Allah dengan cara yang salah

Cara salah mencari hidayah Allah misalnya bertapa dan merenung, padahal dengan cara merenung sangat besar kemungkinan setanlah yang akan masuk.

2. Karena pujian yang berlebihan serta pengkultusan

Misalnya ketika doa sering dikabulkan, maka orang pun berbondong-bondong minta didoakan, baik untuk kesembuhan maupun untuk hal-hal lain. Karena semakin banyak orang yang datang dan mendapat pujian, maka ini bisa dijadikan sarana untuk mengkultuskan hingga menganggap nabi dan menciptakan aliran sesat. 

3. Ujug-ujungnya duit atau hal porno

Ada pula aliran sesat dengan tujuan untuk mengumpulkan harta. Mereka punya baiat setelah syahadat, harus patuh kepada imam jauh di atas kepatuhan terhadap orang tua dan kepada suami (bagi wanita). Bentuk kepatuhan tersebut juga dapat berupa pengalihan nama surat-surat tanah menjadi milik imam atau guru, sehingga si imam menjadi orang yang sangat kaya dengan kekayaan yang berasal dari muridnya. 

4. Kurangnya perhatian tokoh agama terhadap umatnya

Ketika orang-orang yang dianggap sebagai panutan umat terkesan hanya sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri, golongan maupun menceburkan diri kedalam ranah politik, maka wajar bila sebagian dari umat yang tergolong awam mencari pegangan lain. 

5. Grand design pihak asing untuk menghancurkan akidah umat Islam Indonesia

Aliran-aliran sesat itu bisa jadi muncul sebagai grand design (proyek besar) pihak asing untuk menghancurkan akidah umat Islam Indonesia. Jika data statistik yang dijadikan patokan, maka Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. 

6. Popularitas pribadi dan faktor ekonomi

Boleh jadi para penggagas aliran sesat ini muncul hanya untuk mencari popularitas dan keuntungan pribadi. Sejak era reformasi bergulir dan rezim Suharto jatuh, tidak sedikit orang yang hendak mengail di air keruh. Saat siapa pun bebas berbicara, terbuka pula peluang untuk mempopulerkan diri sendiri (self–declared popularity).

7. Masalah kesulitan ekonomi

Tatkala ia mengalami kesulitan ekonomi, bujuk rayu pihak-pihak tertentu yang menawarkan ajaran baru dengan jaminan makan-minum ditanggung oleh ketua kelompok atau pengaku rasul menjadi alternatif pilihan yang menurutnya perlu dicoba. Akhirnya, setelah ia merasa lebih makmur, hidup saling tolong-menolong antar penganut ajaran sesat, lalu ia akan mengajak keluarga dan semua kerabatnya untuk bergabung. Dari sinilah, ajaran sesat itu terus menjalar.

8. Penyebaran dakwah belum merata

Bisa jadi, faktor munculnya aliran sesat juga akibat penyebaran dakwah yang tidak merata. Banyak umat Islam yang hidup di pedalaman atau perkampungan yang belum terjamah oleh dakwah islamiyah.

9. Pendidikan dan arus informasi

Gaktor pendidikan yang bebas dan derasnya arus informasi dapat memicu seseorang mengikuti ajaran sesat. Tatkala model pendidikan modern kurang memberikan kontrol yang maksimal terhadap peserta didik, bahkan kontrol itu sendiri dianggap sebagai pengekangan, maka di sanalah ada ruang bagi peserta didik, terutama yang pemerolehan dasar-dasar agamanya kurang mendalam, dapat salah tafsir dalam membaca buku-buku terjemahan dan literatur yang ia pelajari.