Cerita Menyentuh Hati: "Ibuku Adalah Pembohong Besar!"

Menjadi ibu adalah tanggung jawab juga anugerah. Setiap hari, ada 225 bayi dilahirkan setiap menitnya, yang berarti ada 4,3 bayi yang melihat indahnya dunia setiap detiknya. Angka ini mencerminkan sejumlah “pahlawan” yang memutuskan untuk melepaskan masa lajangnya dan mengambil tugas yang menantang sebagai ibu. 

Seringkali, anak terbiasa dengan kenyataan bahwa ibu selalu ada di sisinya, sehingga mereka sering menganggap ibu sebagai sesuatu yang memang seharusnya begitu. Ibu, banyak berkorban untuk anak-anaknya tanpa mengharapkan imbalan apapun. Mereka selalu mengutamakan kesejahteraan anaknya terlebih dahulu, meskipun ia harus berbohong demi anaknya.

Tahukah engkau, bahwa ternyata ibu adalah pembohong besar bagi anak-anaknya. Dan inilah 8 kebohongan besar yang sering dilakukan oleh seorang ibu terhadap anaknya. 

Kisah ini berawal saat aku masih anak-anak. Aku dilahirkan dari sebuah keluarga miskin, bahkan teramat sering kami tidak punya makanan cukup untuk mengisi perut yang lapar. Ketika waktu makan datang, ibu akan menawariku jatah nasinya untukku. Ketika ibu memberikan nasinya ke dalam mangkokku, beliau akan selalu berkata, “Makan nasinya, Nak. Ibu tidak lapar.”

Inilah Kebohongan Ibu yang Pertama 

Ketika aku sudah mulai besar, ibuku menghabiskan waktunya untuk memancing di tepi sungai dekat rumah kami, berharap ikan yang ia tangkap dapat memberikan sedikit gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhanku. Setelah memancing, ibu akan memasak sop ikan, untuk menambah nafsu makanku.
Seringkali, saat aku mengambil sebagian sop itu, ibu akan duduk di sampingku dan makan sisa-sisanya, yakni tulang belulang yang tidak aku makan. Hatiku sangat tersentuh ketika melihat itu, jadi aku menggunakan garpu dan memberi sebagian dagingnya. Namun ibu menolak dan berkata padaku, “Makanlah Nak. Ibu tidak suka ikan.”

Kebohongan Ibu yang Kedua

Saat aku masih SMA, untuk membiayai sekolahku, ibu mencari rongsokan untuk mendapatkan kardus-kardus bekas dan dikumpulkan lalu dijual. Uang yang yang didapatkan untuk kebutuhan kami. 

Pada satu malam, ketika musim dingin tiba, aku terbangun dari tidur dan melihat ibu masih terjaga, masing mengemasi kardus-kardus itu. Aku berkata, “Bu, tidurlah. Ini sudah larut malam dan besok Ibu harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata, “Tidurlah saying.  Ibu belum capek.”

Kebohongan Ibu yang Ketiga

Ujian akhir tiba dan ibu izin tidak masuk kerja untuk menemaniku. Ibuku menunggu dengan sabar, di bawah panasnya matahari selama beberapa jam, untuk menungguiku selesai ujian. Ketika bell berdering, yang menunjukkan bahwa ujian sudah selesai, ibu segera menyambutku dan memberikanku secangkir teh. Melihat ibuku bercucuran keringat karena berdiri terlalu lama di bawah terik matahari, aku berikan tehku dan memintanya meminum. Namun, ibu menolaknya dan berkata, “Minumlah, Nak. Ibu tidak haus!”

Kebohongan Ibu yang Keempat

Setelah meninggalnya ayah karena sakit, ibuku yang miskin harus menghidupi kami sebagai orang tua tunggal. Beliau harus menghidupi kami sendirian. Kehidupan keluargaku semakin kacau dan tiada hari tanpa penderitaan. Kondisi keluarga kami semakin buruk, tetapi kami dianugerahi paman yang baik yang tinggal dekat dengan rumah kami dan membantu kami sampai saat ini. Para tetanggaku seringkali menasihati ibuku untuk menikah lagi, tetapi ibuku keras kepala dan tidak menerima nasihat mereka, dengan berkata, “Aku tidak butuh cinta.”

Kebohongan Ibu yang Kelima

Setelah aku menyelesaikan studi dan aku mendapatkan pekerjaan, maka inilah saatnya bagi ibuku yang sudah renta untuk tidak lagi bekerja. Tetapi beliau tidak mau, beliau akan tetap pergi ke pasar setiap pagi, hanya untuk menjual sayuran untuk menopang kebutuhan hidupnya. Aku, yang bekerja di kota lain, seringkali mengirimkan uang utnuk membantunya, tetapi beliau tidak akan menerima uang itu. Seringkali ibu mengirimkan kembali uangnya kepadaku dan berkata, “Ibu punya cukup uang.”

Kebohongan Ibu yang Keenam

Karena aku sudah mendapatkan gelar sarjana, aku putuskan untuk mengejar gelar master yang didanai oleh perusahaan melalui program beasiswa. Oleh karena itu, aku diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan itu. Akhirnya, dengan gaji yang cukup baik, aku bermaksud memboyong ibuku untuk tinggal bersamaku sehingga beliau bisa menikmati hidupnya bersamaku. Tetapi ibu tidak ingin mengganggu anaknya. Ibu berkata, “Ibu tidak terbiasa hidup seperti itu, Nak.”

Kebohongan Ibu yang Ketujuh

Di usianya yang sudah senja, ibu terkena kanker perut dan harus dirawat. Aku yang tinggal bermil-mil jauhnya dan menyeberang laut, pulang untuk menjenguk ibunda tercintaku. Beliau terbaring lemah di tempat tidur setelah operasi. Ibu, yang terlihat begitu tua, menatapku lekat-lekat. Beliau mencoba untuk menyunggingkan senyuman hangat untukku, tetapi terlihat memaksakan. Terlihat begitu lemah, itu menunjukkan bahwa penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibuku. Tanpa mengusap derai air mataku yang mengalir deras, aku tatap ibu lekat-lekat, dan hatiku sakit sekali. Tetapi ibu, dengan sedikit kekuatan beliau mengingatkan, “Jangan menangis, anakku sayang. Ibu tidak sakit.”

Kebohongan Ibu yang Kedelapan dan Terakhir 

Setelah mengatakan kebohongan kedelapan, ibunda tercintaku menutup mata untuk selama-lamanya. 


Bagi Anda yang masih beruntung masih memiliki ibu, kisah ini menjadi pelajaran yang indah dan pengingat yang kuat, bahagiakan ibu sebisamu.

Kapan terakhir engkau memikirkan orang tuamu? Mengkhawatirkan mereka, apakah mereka makan atau tidak? Mengkhawatirkan apakah mereka bahagia atau tidak? Kapan terakhir kali kau mengucapkan terima kasih kepada mereka? Jangan lupa untuk menghubunginya dan memeluk ibumu ketika kau masih punya kesempatan.

Jika kisah in bermanfaat, silahkan BAGIKAN!!!