Puisi Tentang Luka Karena Cinta: "Cinta yang Beku"

"Cinta yang Beku"

Aku selalu mengira kita akan menua bersama
Menghadapi setiap hari-hari kita
Namun kini, dengan air mata yang menetes di pipiku
Kenangan tentangmu membayang pergi

Kita berjalan dengan masalah-masalah kita tanpa kata
Subuh beranjak menuju senja
Dedaunan menghampar di kaki-kaki kita yang dingin dan lelah
Diiringi dengan apa yang telah membuat kita sedih

Di kamar tidurku, dikelilingi tembok-tembok kosong
Aku ingin berteriak dan menjerit
Mulutku terbuka tapi tak terucap sepatah kata pun
Tak mau terucap

Kau! Kaulah orang yang aku mulai cintai
Aku kehilangan semuanya demi "Sesuatu yang tak berarti"
Semua yang telah kita bangun, hancur
Karena satu kecerobohan

Dulu aku selalu mengira aku begitu beruntung
Aku dapatkan semuanya
Yang tidak diketahui dapat dimengerti, begitu tertekan
Kau melihatku terjatuh

Hatiku berdarah
Salju pun menjadi merah
Betapa kehidupan telah menipumu
Apakah kau di sini? Kenangan telah pergi, mati

Kau seperti garam yang mengguyur luka
Mengingatkanku saat kau ada di sini
Hangat seperti darah yang ada di venaku
Cinta yang aku miliki untukmu, sayang

Dalam impian-impianku yang menghilang dan hancur
Begitu kosong, tetapi nyata
Aku melayang ke udara
Aku sentuh wajahmu, mengharap dapat merasakan

Keheningan yang beku ini milikmu
Aku masih seperti yang kau kenal
Aku hanya ingin membalas dendam
Mengembalikan semua apa yang telah kau berikan padaku

Maaf, dulu aku begitu mencintaimu
Dan kau tidak pernah merasakan seperti yang aku rasakan
Ketika aku memikirkan yang seharusnya kau bisa
Betapa sia-sia! Percuma!

Satu batu demi batu, aku akan bangun kembali kehidupanku
Aku lebih kuat ketika ada hantaman terkuat
Yang aku tahu hanyalah menggali
Inilah saatnya aku harus berhenti

Dalam sadarku aku bertanya
Aku rindu untuk mendengar
Apakah benar bahwa rumput tetangga lebih hijau?
Dalam sadarku aku bertanya
Aku akan selalu takut