Cerita Film "The Pursuit of Happyness": Apakah Air Mata Selalu Mencerminkan Kesedihan?

Aku mengira akulah orang paling menderita di dunia ini. Itu terjadi ketika aku dalam kondisi perekonomian terparahku dan istriku menendangku dan meninggalkanku dengan pria lain yang kaya. Dia tidak tahan untuk menunggu aku berjuang untuk mereka. Dia terburu-buru memutuskan bahwa aku tak dapat memberi mereka makan. Dia menendangku. Aku meneteskan air mata selama berbulan-bulan. Aku tak dapat menerima kenyataan itu. Aku hampir gila. Aku seperti orang gila selama dua bulan lamanya. Aku tidak pernah mandi selama dua bulan itu. Merokok dan minum kopi adalah kegiatan rutinku setiap hari. Jalan keliling kota tanpa tujuan adalah kegiatanku lainnya. 

Seorang malaikat datang ke dalam hidupku, saudaraku dalam sebuah organisasi pencak silat, SH Terate, menyelamatkanku dari kondisi itu. Juni 2011 adalah proses awal pemulihan jiwaku. Dan kini, aku menyadari apa yang aku lakukan itu hanyalah kesia-siaan semata.

Terlebih, setela menonton film yang dibintangi oleh Will Smith, "The Pursuit of Happyness" (Mengejar Kebahagiaan), sebuah kisah nyata yang difilmkan ini telah membuatku sadar bahwa di luar sana lebih banyak orang yang jauh lebih menderita daripada diriku.

Chris Gardner, seorang suami miskin dari Linda dan ayah dari Christopher, hanyaah seorang sales alat pemindai kepadatan tulang. Istrinya, Linda bekerja di sebuah pusat laundry. Keduanya tinggal di kota besar yang memiliki biaya hidup yang tinggi. Mereka menyewa apartemen untuk tempat tinggal. 

Chris harus menjual sedikitnya dua scanner untuk memenuhi kebutuhan mereka selama sebulan, biaya sewa dan kebutuhan sehari-hari. Namun, kadang ia tak dapat mencapai jumlah itu.

Waktu itu sudah hampir 3 bulan ketika Chris tidak dapat menjual cukup alat pemindai kepadatan tulang agar mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Linda harus bekerja lembur untuk mencukupi biaya-biaya itu. Karena inilah mereka sering cekcok hampir setiap hari. Hal itu seperti digambarkan pada percakapan berikut ini.

"Jual apa yang ada di kontrak itu. Keluar dan kerjakan bisnismu!" kata Linda dengan marahnya.

"Linda, itu yang aku coba lakukan. Inilah apa yang aku coba lakukan untuk keluargaku, untukmu dan Christopher," sanggah Chris.

"Kamu ini kenapa Chris?" tanya Linda.

Hal itu terjadi ketika Chris berkata pada Linda bahwa dia akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan pialang saham. Linda tidak peduli bisnis apa yang akan ia kerjakan, satu hal yang ia tahu adalah bahwa biaya hidup terpenuhi.

Semenjak itu Linda memutuskan untuk meninggalkan Chris. Dia tidak tahan untuk menunggu perjuangan Chris untuk keluarganya, Linda dan anak mereka satu-satunya, Christopher.

Setelah menunggu beberapa jam sambil membawa "mesin waktu" yang berat, Chris menunggu Jaya, salah satu eksekuti puncak perusahaan pialang tempat ia melamar. Namun, Jay berkata bahwa Chris harus menunggu hingga nanti malam. 

Pada malam harinya, Jay menelepon Chris bahwa esok ia harus datang ke kantor untuk menghadidir wawancara. 

Karena Chris berjanji pada pemilik apartemen bahwa ia akan mengecat rumahnya sebagai kompensasi ia minta tunda selama seminggu sebelum diusir, Chris pun mengecat apartemennya itu. Ketika ia sedang mengecat itu, tiba-tiba dua orang polisi datang dan menangkapnya. Dia didenda karena memarkir mobilnya di tempat yang dilarang. 

Sesampainya di kantor polisi, petugas kepolisian mengatakan padanya bahwa ia harus memverifikasi datanya besok pagi jam 9.30. Oleh karena itu, ia harus menginap di kantor polisi malam itu. Ia mengatakan bahwa ia harus menghadiri interview jam 10.15. Tidak mungkin dia menghadiri wawancara dengan pakaian yang kacau itu karena ia ditangkap saat ia sedang mengecat apartemennya. Tetapi polisi tidak peduli hal itu. Ia harus menginap di kantor polisi malam itu.

Keesokan harinya, setelah menadatangani verifikasi data, dia berlari menuju ke kantor dengan pakaian yang acak-acakan. Dia berkata pada eksekutif puncak yang sebenarnya terjadi. Dia mencoba meyakinkan bahwa dialah orang yang tepat untuk posisi yang ditawarkan, sebagai seorang pialang saham. 

Menyedihkan sekali ketika mengetahui dirinya diusir oleh pemilik apartemen. Dia dan anaknya tinggal di mana pun, mengikuti ke mana kaki melangkah. Mereka tidak punya tempat pasti untuk tinggal. Aku merasakan penderitaan yang Chris alami. Chris benar-benar binggung untuk menginap di mana malam itu. Mereka pergi ke stasiun kereta api, tidur di toilet. Menangis. Dia tidak bisa menahan air matanya mengalir: karena nasib dan anaknya.

Namun, dia tidak pernah menyerah pada kondisi semacam itu. Dia bahkan berjuang lebih keras. Dia menjual mesin kepadatan tulang dengan lebih cepat. Dia juga belajar bagaimana menyelesaikan magangnya dengan sebaik mungkin di perusahaan pialang itu, walau tanpa upah sepeser pun.

Singkatnya, setelah mengalami proses yang menyayat hati, Chris dapat menyelesaian magangnya. Dan dari 20 orang yang magang, hanya satu yang diambil dan dialah Chris Gardner. Dan di akhir terakhir ia magang, Chris diminta untuk datang ke panel eksekutif. 

Mr. Frohm : Hai Chris 
Chris : M. Frohm, senang bertemu Anda. 
Mr. Frohm : Baju yang bagus.
Chris : Terima kasih Pak. 
Jay : Chris 
Chris : Hei Jay
Mr. Frohm : Chris, silahkan duduk. 
Chris : Kukira aku seharusnya pakai kaos hari ini. Anda tahu ini adalah hari terakhirku di sini. 
Mr. Frohm : Terima kasih. Gini. Kami sangat menghargai itu. Tetapi pakai baju itu lagi besok, Okay?Karena besok adalah hari pertamamu jika au mau bekerja sebagai pialang. Kau mau Chris?
Chris : Ya Pak.
Mr. Frohm : Bagus. Kami sangat bahagia. Jadi, selamat datang. Apakah semudah yang kau lihat?
Chris : Tidak Pak. Tidak. Tidak semudah yang terlihat.

Di sini, aku kira Chris akan mengekspresikan kebahagiaannya dengan berteriak dan berkata, "YES!! Terima kasih Pak!" Namun, ia meneteskan air mata. Inilah cara dia mengungkapkan kebahagiaan. Inilah cara dia mengungkapkan rasa syukurnya.

Dia bilang, bagian kecil dari kehidupannya ini disebut "kebahagiaan".

Semenjak hari itu, ia bekerja dengan sangat tekun dan bahkan lebih keras lagi. Pada tahun 1987 ia berhasil memiliki perusahaan pialang saham sendiri. Dan 11 tahun kemudian, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan menjadi multimilioner. 
Chris Gardner (tengah) bersama Mary Riana (baju merah)
Kesimpulannya: Meneteskan air mata tidak selalu berarti kesedihan. Di samping itu, jangan pernah menyerah betapapun berat hidup kita. Mari kita kejar apa yang disebut kebahagiaan. Akan selalu ada hadiah indah bagi mereka yang berjuang untuk kehidupannya.