Cinta, Deritanya Tiada Berakhir

Dalam mitos Cina dikenal siluman babi yang hidup di abad ke 2 Sebelum Masehi, Cut Pat Kay yang mengatakan, "Beginilah Cinta, Deritanya Tidak Berakhir."

Tetapi benar cinta deritanya tiada berakhir?

Cinta pada prinsipnya adalah kesenangan, kebahagiaan, dan memberi. Cinta adalah dengan senang hati memberikan apa yang dia miliki. Cinta tidak mengenal penderitaan, cinta hanya mengenal kebahagiaan untuk memberi. Contoh, cinta kasih Tuhan Yang Maha Cinta itu selalu memberi pada semua makhluk ciptaannya yang nyaris tak terhitung banyaknya. Bayangkan jika Tuhan tidak cinta, tentu makhluknya tak akan pernah diberi rejeki, tidak akan pernah diberi kesempatan untuk hidup, tak akan diberi kenikmatan. Itulah cinta. 

Manusia yang sedang mencinta, inginnya memberi pada yang dicintainya. Ia ingin melihat yang dicintainya bahagia. Ia tidak ingin melihat yang dicintainya menderita. Cinta orang tua pada anak adalah bentuk cinta paling nyata antara manusia satu dengan manusia lainnya. Adakah orang tua yang ingin melihat anaknya menderita? Adakah orang tua yang ingin melihat anaknya sengsara? Itulah cinta.

Lantas bagaimana dengan penderitaan, sakit hati akibat cinta?

Orang yang patah hati karena putus cinta, orang yang menderita karena cintanya tak bersambut, orang yang bersedih karena cintanya tak dapat tempat, itu bukanlah cinta. Ia yang menderita karena semua itu adalah ia yang tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian dari orang yang ia harapkan memberi perhatian padanya. Kebutuhan akan perhatian ini berbeda dengan cinta. 

Cinta adalah memberi memberi, sedangkan kebutuhan adalah mengharapkan untuk menerima. Cinta adalah melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa mengharapkan imbalan serupa dari yang ia beri. Kebutuhan adalah memberikan sesuatu dengan mengharapkan imbalan yang sama bahkan lebih dari yang ia beri.

Namun, manakala ia memberikan kebutuhan pada orang lain -- yang ia anggap cinta itu -- tetapi orang lain itu tidak membutuhkan perhatian darinya, lantas mengapa sakit hati? Manakala seseorang memberikan kebutuhan pada orang yang tidak butuh darinya, namun memilih diberi kebutuhan oleh orang lain, mengapa sakit hati?

Jadi, cinta berbeda dengan kebutuhan. Cinta adalah memberi, kebutuhan adalah menerima. Sehingga kata-kata, "Beginilah cinta, deritanya tiada berakhir" adalah keliru. Mulai sekarang gantilah dengan, "Beginilah kebutuhan, jika tak terpenuhi deritanya tiada berakhir."

Setuju?