Tidak Punya Ijazah Bukan Akhir dari Segalanya

Perjalanan hidup seringkali tidak bisa ditebak. Apa yang kita inginkan belum tentu itu yang terjadi. Dan apa yang terbaik menurut kita, belum tentu baik menurut Tuhan. Dan ketika kita menyadari hal itu, maka tidak ada lagi keluh kesah dan meratapi nasib.

Juli 2010, saat saya mengundurkan diri dari profesiku sebagai seorang pengajar, rasanya berat sekali. Aku lulusan S1 (sarjana sastra), tetapi begitu mengundurkan diri dari lembaga yang memberiku beasiswa SMA dan kuliah, aku tidak memegang ijazah yang kuperjuangkan dengan tetesan darah, keringat, dan air mata. Modalku hanyalah fotokopi ijazah sarjana, dengan gaji terakhir tidak aku dapatkan. Ijazah SMA dan sarjanaku ditahan, dan hingga saat ini aku hanyalah seorang lulusan SMP.

Tetapi dengan keyakinan aku keluar dan mencoba melamar di banyak perusahaan. Sebuah perusahaan konsultan media di Jakarta Selatan membuka lowongan sebagai penterjemah. Dan ini kesempatan bagiku karena aku lulusan Sastra Inggris dan sudah menjadi penterjemah lepas sejak semester 4 dulu. Aku pun melamar.

Seminggu kemudian tes. Kupikir tes dan interview macam-macam. Tetapi ternyata diminta menterjemahkan dua halaman berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris langsung dari komputer. 

Selang satu minggu sejak itu aku dipanggil. Aku diterima, setelah menyingkirkan lebih dari 300 orang. Rasa syukur luar biasa kala itu.

Rekruter berkata, "Anda lolos dengan hasil yang menurut kami terbaik. Anda sudah mantap untuk bekerja bersama kami?"

"Mantap Pak," jawabku singkat. 

"Jika Anda sudah mantap, sebelum tanda tangan saja jelaskan dulu. Anda akan kami gaji Rp. 8 juta per bulan. Take home pay. Kontrak 2 tahun. Jika selama 2 tahun kinerja Anda bagus, Anda akan kami angkat menjadi pegawai tetap dengan kompensasi menyesuaikan. Ketika Anda jadi pegawai tetap, nanti ada gaji pokok, ada bonus, ada insentif, ada tunjangan kesehatan, ada tunjangan makan, dan lain-lain. Ya cukuplah untuk hidup di Jakarta. Tetapi untuk saat ini, 8 juta per bulan itu take home pay ya," kata rekruter.

Indah sekali hari itu. Rasanya rekruter di depanku nampak ganteng sekali begitu aku mendengar angkat 8 juta rupiah. Bayangkan sebelumnya aku kerja dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore seminggu full, gaji yang aku terima hanya 1,05 juta rupiah, itu pun gaji  dua bulan terakhir. 

"Bagaimana Anda setuju?" tanya rekruter mengagetkanku.

"Setuju Pak," jawabku berapi-api.

"Tetapi, sebagai komitmen Anda kepada perusahaan, silahkan ijazah asli Anda titipkan kepada kami. Itu wujud komitmen,' lanjutnya.

Bagai disambar petir. Gelap. Tadinya yang aku lihat rekruter itu ganteng, serasa menjadi dekil. Mataku kunang-kunang. Aku ingin menangis di depannya, tetapi tidak mungkin. Dan ia pun melanjutkan.

"Namun jika Anda masih butuh waktu untuk memikirkan, silahkan dipikirkan lagi."

"Iya Pak, saya komunikasi dengan keluarga dulu ya Pak," ucapan saya terakhir sekaligus saya berpamitan keluar.

Begitu keluar dari kantor aku berjalan di Jalan Fatmawati. Aku benar-benar menangis, meneteskan air mata. Rasanya hancur masa depanku. Ijazah yang aku perjuangkan 15 tahun tidak aku punyai. Aku hanyalah lulusan SMP. Dan peluang itu butuh ijazah. Setres, sementara di kantong uang tinggal pas untuk ongkos pulang ke kos. 

Beberapa hari aku mikir seandainya punya ijazah, aku sudah bekerja enak di sana. Tapi kenyataannya aku tidak punya ijazah. Aku pun melamar lagi di sebuah lembaga bimbingan belajar internasional di Bekasi. Diterima lagi. Gaji ditawarkan 3,25 juta per bulan. Aku pun bersyukur. Tapi lagi-lagi jaminan ijazah.

Ingin aku teriak. Ingin aku salahkan dunia. Ingin aku salahkan Tuhan mengapa perjalanan hidup harus begini. Mengapa semua serba ijazah. Mengapa? 

Aku ngonkrong di warung kopi sampai petang. Aku terus merenung mengapa dunia ini tidak adil? Mengapa dunia ini kejam? Karena orang miskin terus diperlakukan seenaknya oleh yang kaya?

Lagi-lagi aku lihat seorang bapak-bapak penjual es pakai gerobak. Ia menginspirasiku. Aku yakin dia tidak lulus SMP. Ia bisa bertahan hidup sampai setua itu. Dan aku yakin bapak itu punya keluarga, bisa memberi nafkah keluarga. Aku pun pulang.

Waktu terus berputar. Ke mana saja aku terbentur ijazah, hingga pada satu titik aku akhirnya menyerah. Aku harus bisa hidup tanpa ijazah, aku harus bisa mencari sumber penghasilan dengan keterampilan yang aku punya tanpa ijazah.

Online. Ya, online adalah salah satu pilihanku. Dan berkat belajar bersama teman-teman online marketer, aku menemukan peluang itu. 

Ada seorang dosen negeri. Ia adalah pebisnis online sukses. Yudawa Suseno namanya. Di sebuah group Google AdSense Indonesia, ia membuat thread status yang menginspirasiku, bahwa rejeki lewat online sangat banyak, tinggal kita pinter-pinter mendapatkannya, dan salah satunya adalah freelance translator. Ia menyebutkan ada translatorcafe.com, ada proz.com dan lain-lain. Dan aku langsung cari info freelance translator. 

Dan alhamdulillah, hari ini saat aku menulis ini, aku sudah mendapatkan penghasilan sebagai penterjemah. Komisi pertama dari penterjemah freelance secara online Rp. 180.000,-. Hasil yang bagiku sangat besar dengan bekerja 4 jam saja. 

Dan aku pun makin mantap, ijazah bukan segalanya ketika mengetahui ada seorang publisher di Google AdSense yang hanya lulusan SMP tapi sebulan mendapatkan penghasilan sekitar 120 juta rupiah.

Where there is a will, there is a way. Ada 1 juta kesempatan di luar sana, tinggal mencari kesempatan itu.