Bogor Mendapatkan Gelar Kota Hujan Sekaligus Kota Seribu Angkot?

Bogor adalah Kota Hujan. Bogor adalah Kota Seribu Angkot. Itu julukan dari Kota Bogor, sebuah kota madya di Provinsi Jawa Barat berdekatan dengan Jakarta dan Depok, menjadi kota penyangga ibu kota yang memiliki peran sangat vital. Setiap hari puluhan ribu bahkan ratusan ribu penduduk Bogor pulang pergi ke Jakarta, baik untuk bekerja maupun berniaga.

Dengan letaknya yang cukup strategis, dan termasuk sejuk - sebelum tahun 2000 - Bogor menjadi daya tarik tersendiri bahwa warga luar Kota dan Kabupaten Bogor untuk berbondong-bondong ke wilayah ini untuk mencari nafkah. Dan hal itu berdampak pada semakin padatnya wilayah ini.

Kepadatan wilayah Bogor tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah penduduknya, tetapi juga fasilitas-fasilitas umum yang membuat kota ini riuh, penuh kemacetan. Bogor sudah benar-benar seperti bukan lagi kota penyangga, Bogor sudah menjadi kota dengan berbagai permasalahan yang terjadi di kota metropolitan, seperti Jakarta. 

Kemacetan Bogor
image: kabarbogor.net
Masalah yang sangat dirasakan oleh semua orang adalah masalah kemacetan. Kemacetan di Kota Bogor terjadi setiap hari, khususnya pada saat jam berangkat kerja dan pulang kerja. Hampir semua wilayah Bogor macet, utamanya wilayah Bogor Barat, yakni antara pertigaan Ciomas sampai Kampus IPB Dramaga. Hampir dipastikan jika dan jam kerja orang akan terjebak dalam kemacetan yang menjengkelkan. 

Jalur Tajur sampai Puncak atau Sukasari sampai Tajur-Puncak juga selalu mengalami kemacetan serupa di jam berangkat kerja dan jam pulang kerja, bahkan sampai malam hari, sekitar pukul 20.00 WIB bahkan pukul 21.00 WIB. 

Terlebih jika pada Jumat malam, Sabtu malam, dan Senin pagi, jika Anda melewati jalur-jalur yang disebutkan itu, pasti akan merasakan dampaknya, syukur-syukur Anda tidak memaki-maki.

Kesemrawutan ini sangat besar pengaruhnya dipicu oleh terlalu banyaknya angkot yang beroperasi di Kota Bogor, sementara mereka juga seringkali ngetem di tempat-tempat yang mereka anggap strategis tetapi sangat membuat kemacetan. Di samping itu, jalan-jalan di Bogor yang sempit juga menjadi faktor penyebabnya. Coba bandingkan dengan Kota Semarang misalnya, jalannya sangat lebar, sehingga sangat jarang terjadi kemacetan, meski penumpukan kendaraan pun terjadi, tetapi tidak sampai macet parah.

Kemacetan-kemacetan ini ditambah cuaca Bogor yang tidak lagi sejuk seperti sebelum tahun 2000-an, menjadikan pengguna jalan merasakan tingkat kesetresan yang lebih tinggi. 

Dengan kondisi wilayah Bogor khususnya Kota Bogor yang panas itu, dan banyaknya angkot, kini  predikat Kota Hujan yang identik dengan kesejukan dan kenyamanan sudah bergeser, menjadi kota panas dan kota semrawut dengan gelarnya Kota Seribu Angkot.

Kota Bogor, Kota Seribu Angkot yang semrawut, penuh kemacetan dan panas.