"The Last of Robin Hood": Film Terbaru yang Dibintangi Dakota Fanning

"The Last of Robin Hood adalah film terbaru yang released tanggal 29 Agustus 2014. Dibintangi oleh aktris cantik, muda, dan berbakat yang pernah bermain bersama Sean Penn dalam film "I Am Sam".

Penyanyi, penari, sekaligus aktris Beverly Aadland memimpikan ketenaran, tetapi namanya remuk redam dalam kehinaan sebagai subyek dari skandal yang menuduhnya menguras harta kekasihnya, Albeit, seorang ikon Hollywood. Kisah Asmara bulan Mei-Desember dengan Errol Flynn membuatnya menjadi sumber gosip dan gunjingan publik. 54 tahun sejak kematiannya Flynn dan empat tahun setelah kematian Aadland, sebuah film menggugah sisi cerita kehidupan mereka. Namun seperti yang ditunjukkan dari judulnya, The Last of Robin Hood lebih banyak menceritakan Flynn ketimbang wanita lugu yang ia goda dan hancurkan.

Ditulis dan disutradarai oleh Richard Glazer dan Wash Westmoreland, The Last of Robin Hood dibintangi Dakota Fanning sebagai Beverly "Woodsey" Aadland, yang dimunculkan dalam film itu pada saat dramatis perselingkuhannya dengan Errol Flynn (diperankan oleh Kevin Kline) mencuat ke publik mendekati kematian Flynn pada 1959. Ia berumur 50 tahun kala itu, sedangkan Aadland berusia 17 tahun. Sementara Woodsy, saat berhubungan dengan Flynn yang nampak seperti kayu rapuh itu, menghindari pers, menolak untuk mengekspos kehidupan pribadinya publik, ibunya Florence (diperangkan oleh Susan Sarandon ) sangat berambisi untuk menikmati kondisi itu. Melalui cerita Florence, film ini melakukan kilas balik ke dua tahun sebelumnya, ketika Flynn berusaha mencari gadis paduan suara untuk di sebuah tempat studio. Dari sana, film mulai menceritakan kisa Flynn dan Woodsey yang berpacaran, kolaborasi, bertengkar, hingga babak akhir mereka yang begitu dramatis. 

Film berakhir dengan kartu judul memoriam untuk Aadland, yang meninggal pada tahun 2010. Namun seperti yang ditunjukkan oleh film biopik ini, dia tidak pernah membahas tentang hubungannya dengan Flynn. Kisah yang diceritakan berasal dari ibu angkatnya, yang bertentangan dengan keinginan putrinya untuk menerbitkan sebuah buku tentang hubungan Flynn dan Aadland yang disebut Big Love. Ini berarti setiap adegan yang ditayangkan dalam film oleh kedua sejoli lebih banyak merupakan kabar angin dan lebih buruk lagi benar-benar khayalan. Namun, Glatzer dan Westmoreland bisa membuat indah kisah asmara ini yang sebetulnya kurang mengigit, yang menggambarkan kisah asmara yang tidak mungkin atau mustahil.  Film ini telah dibumbui intrik-intrik tentang dari buku Lolita Vladimir Nabokov. Sayangnya, The Last of Robin Hood tidak mencoba lebih berani dan menarik. 

Tentu, Florence menguraikan narasinya, meyakinkan penonton bahwa Flynn adalah seorang pria yang menjadi pria pertama kencan dengan Aadland. Tapi dalam film ini dipertontonkan "kebenaran" di mana bintang The Adventures of Robin Hood mengisolasi remaja perempuan yang lugu itu dan dan kemudian memperkosanya. Dan kita ditunjukkan di mana gadis itu menangis karena kehilangan kegadisannya dan trauma ini dimanipulasi oleh idola yang ia dikagumi. Tapi ini adalah salah satu dari beberapa gambaran sekilas yang dibuat oleh sutradara tentang kisah gadis itu. Film ini terlalu terjebak dan norak yang menunjukkan kesan Flynn dan gambaran ibu angkat yang oportunistik dan murahan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan Aadland, membangun karakter, keinginan dan motivasi. Diakuinya, Fanning membawakan sedikit peran di luar wajah cantik dan kemiripan dengan Aadland yang asli. Meskipun demikian, betapa gemuruhnya sebuah film yang menampakkan seorang gadis yang tersesat yang mengulangi dosa ibunya dan kekasihnya dengan mengabaikan dirinya demi hasrat pembuat film 'sendiri, dalam hal ini mengekspos keindahan.

Namun, kita bisa belajar sedikit dari The Last of Robin Hood yang saya tidak bisa kita ambil dari Wikipedia. Segelintir fakta dan spekulasi tidaklah cukup untuk membuat tragedi Hollywood ini mendesis. Selanjutnya yang tidak asyik, Fanning memiliki nol chemistry dengan Kline. Jadi, ketika mereka berciuman - jauh dari kesan romantis. Bahkan ikatan ke ibunya terasa samar. Secara intelektual, saya menyimpulkan bahwa Aadland didorong oleh dua kekuatan yang sangat karismatik, seorang ibu yang sangat ingin putrinya menjadi bintang, dan bintang yang menawarkan memperlakukan mahal dan jaminan ketenaran dalam pertukaran untuk memanjakan dalam seks dengan gadis di bawah umur (trend film terus berulang kali terjadi.) Tapi Aadland adalah karakter begitu sulit untuk ditarik ke dalam drama pada tingkat yang emosional. Sebaliknya, plot ini bermain keluar seperti perumpamaan lain tentang besar buruk Hollywood, di mana keserakahan mendorong orang untuk menjual jiwa mereka. Pada dasarnya, ini adalah cerita yang sudah kita lihat lagi dan lagi. Kali ini mengatakan tanpa gaya.

Digambarkana dengan warna-warna yang kurang mengigit mulai dari penampilan (Kline dan Sarandon) sampai kecanggungan (Fanning), The Last of Robin Hood nampak seperti film TV. Mungkin tidak terlalu mengejutkan jika hal itu diproduksi sebagian oleh Lifetime Films (ya, bagian dari saluran Lifetime). Tawaran ini norak dan kurang menggigit, lebih cocok untuk menciptakan kesenangan yang tidak pas. Dalam world Lifetime yang dibuat ununtuk film TV. Namun, The Last of Robin Hood benar-benar tidak sopan dalam mengarang sebagai cerita Aadland ini. Ini adalah gambaran dari seorang gadis yang terfitnah dan disalahpahami.

Analisa oleh pengamat film Kristy Puchko.

Kita tunggu film ini masuk ke Indonesia ya. Sepertinya aku mau nonton, karena Dakota Fanning adalah aktris favoritku. Gadis kelahiran 1994 ini cantik dan menarik, apalagi saat main bersama Sean Penn "I Am Sam"