Pocong Berdiri di Atas Kembang Ganyong

16 Oktober 1996, saat itu aku bersama dua orang temanku, Pak Bunari (Nah) dan Supriyadi (Seceng) bertugas jatah jaga malam. Aku tinggal di asrama sekolahku, sebuah SMA swasta di Cibungbulang, Bogor. Seminggu sekali kami anak asrama beserta beberapa guru ditugasi untuk menjaga komplek sekolah yang luasnya sekitar 2 hektar itu.

Jam 21.00 kami bertiga nongkrong di warung bubur di pinggir jalan raya. Karena memang terasa lapar aku memesan satu mangkok mie rebus plus telur ditambah lagi satu mangkok bubur kacang ijo. Kenyanglah sudah. 

Sekitar jam 22.30, kami pun pulang. Berhubung bertugas jatah jaga malam, aku tidak pulang ke asrama, tetapi langsung keliling bersama dua orang kawanku ini, kami tiga serangkai. Nah seniorku dulu di asrama dan saat itu bertugas sebagai staf TU di sekolah, sementara Seceng adik kelasku.

Sekolah kami dilewati oleh sungai kecil. Dari jalan raya menuju ke sekolah jalan menurun, melewati depan kantin dan jembata kecil menuju sekolah. Kami pun duduk-duduk di teras kantin, berbincang panjang lebar ngalor ngidul.

Tepat pukul 24.00, Seceng pamitan pulang ke asrama karena ngantuk, dan Nah sudah terlelap sekitar 15 menit sebelumnya. Karena hobiku memang melek, aku masih terjaga.

Aku tiduran terlentang, sementara Nah tidur dengan posisi miring. Persis di depanku ada taman kecil pinggir jalan samping undak-undakan dari teras ke jalan. Di taman sebelah kanan undak-undakan ada pohon ganyong dan beberapa bunga lainnya. Sementara di sebelah kiri pada pohon sirkaya yang tingginya masih sekitar 2 meter.

Sepi sekali. Suara jangkring dan gemericik aliran sungai yang aku dengar. Nah sudah terlelap, mungkin sudah ada di alam mimpi.

Tiba-tiba, terkejut bukan main. Jantung rasanya mau copot. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat pocong berdiri di atas kembang ganyong, matanya terbelalak seperti mau keluar. Kain kafan yang terikat di kepalanya sedikit menjuntai ke depan dengan warna sudah putih keabu-abuan. Wajahnya rusak, giginya berwarna kuning, tetapi bola mata utuh dan bulat besar. 

Ia menatapku tajam. Gemrobyos, keringat dingin bercucuran. Aku tidak bisa bergerak. Mataku terbelalak, tidak berkedip menatap wajahnya yang sangat menyeramkan. Belum pernah aku melihat makluks semenyeramkan ini. Kain kafan menjuntai ke menutupi bunga ganyong tadi sehingga aku tidak bisa melihat di mana kakinya.

Tidak karu-karuan rasanya. Aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Yang ada adalah ketakutan yang luar biasa. 

Saat ini, saat aku menulis ini aku pun masih terbayang. Saat ini, tempatku menulis berjarak sekitar 400 meter dari lokasi kejadian itu. Terbayang jelas. Dan mungkin aku tidak akan lupa. Padahal itu bukan pengalaman pertamaku melihat penampakan, tetapi itu pengalaman paling menyeramkan.

Sekitar 5 menit ia tidak bergerak, dan aku pun tidak bisa bergerak. Kami saling tatap. Tanpa suara, tanpa gerakan. 

Pocong menghilang, ngeclap. Selepas itu, aku merasakan ketakutan luar biasa. Aku gigit tangan Nah supaya dia bangun, dan begitu bangun aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali "Ayo pulang." Dan ternyata Nah hanya melek sebentar dan tidur lagi. 

Tikar yang jadi alas akhirnya aku gulung. Aku benar-benar tidak percaya, dan aku pun tidak bisa tidur. 

Subuh Nah membangunkanku. Aku tidak tidur. Begitu ia menyentuhku aku pun menjerit kaget. Dan Nah pun kaget. Kami pulang.

Besoknya aku ceritakan, dan dia bilang, "Kenapa kamu tidak bilang dari semalam?"

Aku pun menjawab, "Boro-boro mau bilang, ngomong pun gak bisa Nah."

Mungkin ada setengah tahun aku tidak berani keluar malam sendirian. Ke mana pun minta di antar. Tidur sendirian pun tidak berani.

Keangkeran komplek asrama dan sekolahanku memang luar biasa. Setelah aku bertanya kepada kepala sekolahku yang membangun sekolah itu dari nol, beliau pun menjawab "Memang tempat ini dulunya adalah pusat pemujaan. Kamu lihat batu yang ada di depan rumah? Kenapa batu itu tidak dipindah? Karena memang tidak bisa. Digranit pun tidak pecah. Dulu orang-orang kampung sini terbiasa memberikan sesaji. Dan untuk di jembatan itu, bukan hanya pocong, tetapi kuntilanak, lalu manusia tanpa kepala, kaki raksasa, dan banyak lagi."