Gadis Inggris Meninggal Dunia Beberapa Bulan Setelah Masuk Islam

Cerita ini sangat menyentuh. Saya mengangkat cerita ini bukan karena agama, tetapi mengungkapkan betapa ia bisa begitu takjub dan tersentuh karena sesuatu, lalu mencari tahu, mempelajari, dan akhirnya ia mencintai. 

Anda bisa mencarinya di Youtube bagaimana Cassie merekam suaranya sebagai kesaksian sebelum ia meninggal dunia. Kini ia sudah kembali kepada-Nya untuk selama-lama sejak Oktober 2010 lalu.

Berikut ini skrip dari kesaksian Cassie. Mendengarkan rekaman aslinya membuatku sangat terharu, sesak dada rasanya. Skrip dalam bahasa Inggris beserta terjemahannya.

----------------

My name is Cassie, I am 23 years old. I graduated as a qualified nurse this year and was given my first position as a home nurse.

(Namaku Cassie, umurku 23 tahun. Aku lulus sebagai perawat tahun ini dan diberi tugas pertama sebagai perawat rumahan).

My patient was an English gentleman in his early 80s who suffered from Alzheimers. In the first meeting I was given the patient’s record and from it could see that he was a convert to the religion of Islam, therefore he was a Muslim.

(Pasienku adalah seorang pria Inggris usianya mendekati 80an yang menderita Alzheimer. Pada pertemuan pertama, aku diberi catatan pasien dan darinya aku bisa tahu bahwa dia mualaf yang berpindah ke agama Islam, oleh karenaya dia seorang muslim).

I knew from this that I would need to take into account some modes of treatment that my go against his faith, and therefore try to adapt my care to meet his needs. I brought in some ‘halal’ meat to cook for him and ensured that there was no pork or alcohol in the premises as I did some research which showed that these were forbidden in Islam.

(Dari catatan itu aku tahu bahwa aku harus memberikan perawatan yang sesuai dengan kepercayaannya, seingga aku mencoba mengadaptasi cara merawatku agar sesuai dengan kebutuhannya. Aku membeli daging "halal" untuk dimasak untuknya dan memastikan bahwa tidak ada daging babi ataupun alkohol seperti yang tertuang di catatan sehingga aku pun mencari tahu apa-apa yang dilarang dalam Islam)

My patient was at a very advanced stage of his condition so a lot of my colleagues could not understand why I was going to so much effort for him, but I understood that a person who commits to a faith deserves that commitment to be respected, even if they are not in a position to understand.

(Pasienku berada dalam tahapan yang sangat lanjut sehingga banyak teman kampusku yang tidak mengerti mengapa aku begitu keras berusaha untuknya, namun aku paham bahwa orang yang berkomitmen dengan keyakinannya layak dihargai atas komitmennya itu, bahkan ketika dalam kondisi yang tidak bisa dimengerti sekalipun)

Anyway after a few weeks with my patient I began to notice some patterns of movement.

(Setelah beberapa minggu bersama pasienku, aku mulai memperhatikan beberapa pola gerakan.)

At first I thought it was some copied motions he’d seen someone do, but I saw him repeat the movements at particular times; morning, afternoon, evening.

(Awalnya aku mengira dia meniru gerakan seseorang yang ia pernah lihat, tetapi aku lihat dia mengulangi gerakan yang sama pada waktu-waktu tertentu: pagi, siang, dan petang).

The movements were to raise his hands, bow and then put his head to the ground. I could not understand it. He was also repeating sentences in another language, I couldn’t figure out what language it was as his speech was slurred but I know the same verses were repeated daily.

(Gerakan-gerakan itu yakni mengangkat kedua tangannya, membungkuk kemudian menaruh kepalanya ke lantai. Aku tidak mengerti apa itu. Dia juga mengulang-ulang kalimat-kalimat yang ada dalam bahasa lain, aku tidak mengerti bahasa apa itu karena dia mengucapknya tidak begitu jelas namun aku tahu itu adalah ayat-ayat yang diulang setiap harinya.)

Also there was something strange, he didn't allow me to feed him with my left hand [I am left-handed]. Somehow I knew this linked to his religion but didn’t know how.

(Selain itu, aku juga merasa aneh, dia melarangku untuk menyuapinya dengan tangan kiri (aku kidal). Namun aku tahu ini berkaitan dengan agamanya tetapi aku tidak tahu kenapa.)

One of my colleagues told me about paltalk as a place for debates and discussions and as I did not know any Muslims except for my patient I thought it would be good to speak to some live and ask questions. I went on the Islam section and entered the room ‘True Message’.

(Salah satu teman kampusku memberitahuku tentang paltalk (mimbar debat), sebuah tempat untuk berdebat dan diskusi dan karena aku tidak tahu muslim lain kecuali pasienku maka rasanya akan tepat jika aku berbicara langsung dan mengajukan pertanyaan. Aku masuk ke seksi Islam dan masuk ke rungan "True Message")

Here I asked questions regarding the repeated movements and was told that these were the actions of prayer, I did not really believe it until someone posted a link of the Islamic prayer on youtube.

(Di sini, aku mengajukan petanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan gerakan yang diulang-ulang dan aku diberitahu bahwa itu adalah gerakan sholat, akut tidak benar-benar percaya hingga seseorang memposting sebuah link tentang sholatnya orang Islam di Youtube.)

I was shocked. A man who has lost all memory of his children, of his occupation, and could barely eat and drink was able to remember not only actions of prayer but verses that were in another language.

(Aku terhenyak. Seseorang yang telah kehilangan semua ingatannya tentang anak-anaknya, tentang pekerjaannya, dan hanya bisa makan dan minum bisa mengingat tidak hanya gerakan sholatnya saja, tetapi juga ayat-ayat dari bahasa lain.)

This was nothing short of incredible and I knew that this man was devout in his faith, which made me want to learn more in order to care for him the best I could.

(Ini benar-benar luar biasa dan aku tahu pria ini sangat taat kepada keyakinannya itu, sehingga membuat ingin terus belajar agar aku bisa melayaninya dengan layanan terbaik yang bisa aku berikan).

I came into the paltalk room as often as I could and was given a link to read the translation of the Quran and listen to it. The chapter of the ‘Bee’ gave me chills and I repeated it several times a day.

(Aku masuk ke paltalk sesering mungkin dan aku diberi link untuk membaca terjemahan Al Quran dan mendengarkannya. Surat "Lebah" (An-Nahl) menyejukkanku dan aku mengulangi beberapa kali dalam sehari)

I saved a recording of the Quran on my iPod and gave it to my patient to listen to, he was smiling and crying, and in reading the translation I could see why.

(Aku simpan rekaman Al Quran itu dalam iPod-ku dan memberikannya kepada pasienku untuk didengarkan, dia tersenyum dan menangis, dan dengan membaca terjemahanya aku akhirnya tahu mengapa ia tersenyum dan menangis)

I applied what I gained from paltalk to my care for my patient but gradually found myself coming to the room to find answers for myself.

(Aku menerapkan apa yang aku dapatkan dari paltalk untuk merawat pasienku, namun berangsur-angsur aku menemukan diriku masuk ke dalam ruangan itu untuk menemukan jawaban bagi diriku sendiri)

I never really took the time to look at my life; I never knew my father, my mother died when I was 3, me and my brother were raised by our grandparents who died 4 years ago, so now it’s just the two of us. But despite all this loss, I always thought I was happy, content.

(Aku benar-benar tidak pernah meluangkan waktu untuk memikirkan hidupku; aku tidak pernah tahu siapa ayahku, ibuku meninggal ketika aku berusia 3 tahun, aku dan kakakku dibesarkan oleh kakek dan nekek yang telah meninggal 4 tahun lalu, jadi kini tinggal kami berdua saja. Namun, meskipun aku telah kehilangan semua itu, aku selalu berpikir bahwa aku bahagia, nyaman.)

I was only after spending time with my patient that felt like I was missing something. I was missing that sense of peace and tranquillity my patient had, even through suffering felt. I wanted that sense of belonging and a part of something that he felt, even with no one around him.

(Hanya setelah menghabiskan waktu bersama pasienku aku merasa ada sesuatu yang hilang dari diriku. Aku merindukan rasa kedamaian dan ketenangan seperti yang dimiliki oleh pasienku, meskipun menderita "kejiwaan". Aku menginginkan rasa memiliki dan bagian dari sesuatu yang ia rasakan, meskipun tidak ada satupun orang di sisinya.)

I was given a list of mosques in my area by a lady on paltalk and went down to visit one. I watched the prayer and could not hold back my tears. 

(Aku diberi daftar masjid di sekitar tempatku oleh seorang wanita di paltalk dan aku mengunjungi salah satunya. Aku melihat sholat dan aku tidak bisa menahan air mataku.)

I felt drawn to the mosque every day and the imam and his wife would give me books and tapes and welcome any questions I had.

(Aku mengunjungi masjid itu setiap hari dan sang imam dan istrinya memberiku buku-buku dan kaset dan mempersilahkanku mengajukan pertanyaan kapan pun aku ada pertanyaan.)

Every question I asked at the mosque and on paltalk was answered with such clarity and depth that could do nothing but accept them.

(Setiap pertanyaan yang aku tanyakan di masjid dan di paltalk dijawab dengan begitu jelas dan mendalam sehingga aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menerimanya)

I have never practiced a faith but always believed that there was a God; I just did not know how to worship Him.

(Aku belum pernah melakukan praktek penyembahan apapun tetapi selalu percaya bahwa Tuhan itu ada, hanya tidak tahu bagaimana cara menyembahnya.)

One evening I came on paltalk and one of the speakers on the mic addressed me. He asked me if I have any questions, I said no. He asked if I was happy with the answers I was given, I said yes.

(Satu sore, aku datang ke paltalk dan salah satu pembicara menyapaku. Dia bertanya apakah aku ada pertanyaan, aku jawab tidak. Dia bertanya apakah aku senang dengan jawaban yang dia berikan, aku jawab ya.)

He asked then what was stopping me accepting Islam, I could not answer.

(Lalu ia bertanya mengapa aku berhenti menerima Islam, aku tidak bisa menjawab.)

I went to the mosque to watch the dawn prayer the imam asked me the same question, I could not answer.

(Aku pergi ke masjid untuk melihat sholat subuh dan sang imam bertanya kepadaku pertanyaan yang sama, aku tidak bisa menjawab)

I then went to tend to my patient, I was feeding him and as I looked in his eyes I just realized, he was brought to me for a reason and the only thing stopping me from accepting was fear…. not fear in the sense of something bad, but fear of accepting something good, and thinking that I was not worthy like this man.

(Segera aku terbayang pasienku, aku saat aku menyuapinya dan ketika yang aku lihat matanya aku baru sadar bahwa dia dibawa kepadaku karena alasan dan satu-satunya yang menghentikanku untuk menerima adalah rasa takut....bukan takut dalam arti sesuatu yang buruk, tetapi  takut menerima sesuatu yang baik, dan aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk seperti pria itu.)

He helped me through it was I was shown how to walk and guided through would I would need to do next.

(Dia membantuku melewati ketakutan itu. Aku ditunjukkan bagaimana aku berjalan dan dipandu akan apa-apa yang aku butuhkan untuk aku lakukan selanjutnya) 

I cannot explain the feeling I felt when I said it. It was like someone woke me up from sleep and sees everything more clearly. The feeling was overwhelming joy, clarity and most of all…. peace.

(Aku tidak bisa menjelaskan rasa yang aku rasakan saat aku mengucapkannya. Rasanya seperti seperti baru bangun dari tidur dan melihat semuanya dengan lebih jelas. Rasa itu dipenuhi kegembiraan yang melimpah, kejelasan, dan dari semua itu... kedamaian.)

The first person I told was not my brother but my patient. I went to him, and before I even opened my mouth he cried and smiled at me. I broke down in front of him, I owed him so much.

(Orang pertama yang aku beritahu bukan kakakku, tapi pasienku. Aku mendatanginya, dan bahkan sebelum aku buka mulutku dia menangis dan tersenyum padaku. Aku bersimpuh di hadapannya, aku berhutang banyak kepadanya.) 

I came home logged on to paltalk and repeated the shahaadah for the room. They all helped me so much and even though I had never seen a single one of them, they felt closer to me then my own brother.

(Aku kembali datang ke paltalk dan mengulang kalimat syahadat di ruangan itu. Mereka semua membantuku dan meskipun aku belum kenal mereka satupun, mereka terasa denganku setelah kakakku.)

I did eventually call my brother to tell him and although he was wasn’t happy, he supported me and said he would be there, I couldn’t ask for any more.

(Aku lalu menghubungi kakakku untuk memberitahunya dan meskipun dia tidak suka, dia mendukungku dan mengatakan dia akan ikut, aku tidak bisa meminta apa-apa lagi.)

After my first week as a Muslim my patient passed away in his sleep while I was caring for him. Inna lillahi wa inna ilayhi raji’oon. He died a peaceful death and I was the only person with him. He was like the father I never had and he was my doorway to Islam.

(Setelah seminggu aku masuk sebagai Muslim, pasienku meninggal dunia dalam tidurnya ketika aku sedang merawatnya. Inna lillahi wa inna ilaii rajiuun. Dia meninggal dengan tenang dan akulah satu-satunya orang yang bersamanya. Dia seperti ayah yang tidak pernah aku miliki dan dialah pintu masukku menuju Islam)

From the day of my Shahaadah to this very day and for every day for as long as I live, I will pray that Allah shows mercy on him and grant him every good deed I perform in the tenfold. I loved him for the sake of Allah and I pray each night to become an atoms weight of the Muslim he was.

(Sejak hari aku mengucapkan syahadat hingga hari ini dan setiap hari selama aku masih hidup, aku akan bedoa agar Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya dan semua kebaikannya dilipatgandakan. Aku mencintainya karena Allah dan aku berdoa setiap malam untuk menjadi sebuah atom Muslim seperti dia.)

Islam is a religion with an open door; it is there for those who want to enter it…. Verily Allah is the Most Merciful, Most Kind.

(Islam adalah sebuah agama dengan pintu yang terbuka, Islam ada bagi siapapun yang ingin memasukinya. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.)

--------------------------------------

Catatan:

Kini saudari kita telah meninggal dunia pada bulan Oktober 2010, beberapa bulan setelah ia masuk Islam dan mengislamkan kakaknya. Inna lillahi wa inna ilai raajiun.

Untuk mendownload dan mendengarkan versi MP3, silahkan KLIK DI SINI.

Versi Youtube: Klik di Sini.