Facebook: Cara Baru Temukan Saudara "yang Hilang"

Pada tahun 1996, saat Presiden Indonesia, Soeharto, mengunjungi Suriname untuk pertama kalinya, masyarakat Indonesia, khususnya Jawa terkejut: ternyata ada komunitas masyarakat Jawa dalam jumlah yang cukup signifikan yang ada di belahan bumi antah berantah. Saat itu, stasiun televisi sebagai corong pemerintah, TVRI, menyiarkan secara langsung bincang-bincang Pak Harto dengan komunitas masyarakat Jawa di Suriname, tentu tidak menggunakan bahasa Indonesia, namun bahasa Jawa. Ya karena mereka tidak mengerti bahasa Jawa.

Mereka bercerita bahwa mbahnya, orang tuanya berasal dari Solo, dari Kebumen, dari Jogja, dan daerah-daerah lain. Mereka tahu Solo dan daerah-daerah itu hanya dari cerita orang tua dan kakek nenek mereka.

Era berganti. Saat itu era industri yang sudah hendak memasuki abad 21 di mana era berganti menjadi era informasi. Arus informasi begitu pesat. Memasuki tahun 2000-an masyarakat pengguna internet makin banyak. Berbagai informasi pun dengan mudah didapatkan, informasi apapun.

Tahun 2004, seorang mahasiswa drop out, Mark Zuckerberg, membuat situs jejaring sosial Facebook. Boom.... meledak. Jejaring sosial ini sangat populer, bahkan memasuki dasawarsa kedua abad ke-21, hampir semua lapisan masyarakat di seluruh penjuru dunia, khususnya Indonesia sudah tidak asing lagi dengan jejaring sosial ini. Mereka bisa berbagi informasi apapun, update status apapun, kapan pun, dan dari mana pun. Popularitas Facebook makin melambung tinggi manakala jejaring sosial ini terus menyempurnakan fitur-fiturnya.

Dampak positif dan negatif dari Facebook pun tak terelakkan. Berapa banyak perselingkuhan terjadi karena Facebook. Berapa banyak penipuan melalui Facebook terjadi, dan masih banyak lagi dampak negatif lainnnya. Kendatipun demikian, dampak Facebook pun memberikan manfaat banyak bagi para penggunanya sebagai dampak positif. 

Ketika era industri, bahkan sudah menjelang era informasi, untuk mengetahui kabar seseorang harus menggunakan surat. Untuk mengabarkan kabar terbaru di suatu daerah harus menggunakan telepon dengan biaya yang mahal. Untuk mencari kawan-kawan lama butuh waktu lama. Namun dengan jejaring sosial ini semuanya seperti sihir yang begitu cepat. Kita bisa dengan mudah tersambung dengan kawan lama yang hilang. Kita bisa mendapatkan teman baru dengan sangat mudah. Kita bisa mendapatkan "jodoh" melalui Facebook. Kita dapat mengabarkan kejadian atau informasi apapun dalam sekejapan mata, dan bisa diakses oleh banyak orang dalam waktu singkat. Melalui Facebook pula kita makin banyak mendapatkan informasi lebih dari "wartawan" yang tidak pernah sekolah jurnalisme.

Kembali ke komunitas Jawa Suriname. Dengan adanya Facebook, masyarakat Indonesia khususnya Jawa bisa terhubung dan berkomunikasi serta bertukar informasi dengan masyarakat Suriname kapan pun baik. Ada beberapa group yang menjadi wadah bertukar informasi dan menjalin persahabatan. 

Jawa Suriname Jawa Indonesia misaalnya, sampai saat ini memiliki member sebanya 2479 orang,  yang terdiri dari orang-orang Jawa Indonesia maupun orang-orang Jawa yang sudah menetap di Suriname dan Belanda. Di sini mereka saling berkomunikasi, bercengkrama, berbagi pengalaman, dan berbagi kisah.

JAVANESE FROM SURINAME juga group yang berisikan komunitas masyarakat Jawa baik dari Indoinesia maupun dari Suriname. Jumlah membernya sampai saat ini sudah mencapai 12410 orang. Saya pun menjadi bagian dari group ini. Kadang sekedar membaca apa yang mereka tulis, kadang itu memposting, dan kadang juga berkomentar. 

Suriname-Jawa, juga merupakan group komunitas mayarakat Jawa di Suriname maupun di Jawa. Di sini juga bisa bertukar informasi apapun antara masyarakat Jawa Indonesia dan Suriname. 

Berkat jejaring sosial Facebook, suadara-saudara "yang hilang" di belahan bumi yang sangat jauh dari Indonesia ini, bisa diketemukan. Meskipun mereka menjadi warga negara lain, yang bahkan mungkin mereka belum pernah menginjakkan kaki di bumi Jawa sendiri, namun rasanya seperti tetangga, seperti saudara yang sama-sama tinggal di Tanah Jawa. 

Facebook, terima kasih ya. Dengan hadirmu banyak hal kami dapatkan. Banyak saudara kami yang "hilang" telah kami temukan kembali.