So Yesterday

Rasanya baru kemarin aku terlahir ke dunia, tiba-tiba aku sudah begini tua. Rasanya baru kemarin aku masuk bangku sekolah dasar, dan aku masih ingat betul di hari pertama aku masuk sekolah, pas di jam istirahat aku pulang, karena kukira memang waktunya pulang. 

Salah satu kawanku, Parminah berkata, "Hei nanti kamu diomeli Pak Guru lho, kamu pulang duluan." 

Rasanya aku takut sekali. Dan rasa takut itu masih sangat terasa. It's so yesterday.

Aku masih ingat betul ketika almarhum bibiku membelikan sepatu, dan itulah sepatu pertama yang aku miliki, Kubota merknya. Betapa aku sangat bahagia. Tiba-tiba saja, anak yang masih sekecil itu, kelas 2 SD, harus terjebak dalam insomnia yang membahagiakan, dengan sepatu Kubota-ku. It's so yesterday.

Aku masih ingat betul ketika aku kelas 6 SD di hari Minggu aku jualan es lilin dengan sepedaku. Satu hari, aku merasa senang sekali karena aku untung dua kali lipat dari biasanya (dalam hitunganku), karena berhasil menjual 100 buah es lilin. Aku untung Rp. 1.000. Aku berpikir lumayan bisa untuk membayar SPP-ku selama 3 bulan. Tetapi sampai di rumah, dengan basah kuyup, aku menangis keras mana kala ternyata uang hasil jualanku hilang semua. Aku masih sangat ingat itu. It's so yesterday.

Aku masih sangat ingat saat aku SMP. Suatu pagi aku berangkat sekolah. Kondisi hujan dan jalan dari kampungku sekitar 3 km jauhnya masih jalan tanah. Aku naiki sepedaku. Saat itu kondisi banjir. Aku kejebur sungai, sepedaku hanyut dan nyangsang di jembatan. Sebagai siswa yang rajin yang tidak pernah ingin absen aku tetap melanjutkan perjalanan sampai sekolahan, meski aku harus basah kuyup di dalam kelas. It's so yesterday.

Aku masih ingat, satu pagi, ketika hendak berangkat sekolah ternyata sepedaku bocor. Bapak menambal sepedanya. Begitu dipompa ternyata ban dalamnya kejepit dan meletus. Bapak marah, dan aku hampir dilempar pakai pompa. Aku berangkat ke sekolah sambil ketakutan. Aku nangis dan jalan kaki selama 2 jam sampai sekolahan. It's so yesterday.

Bidadari pertama hadir dalam kehidupaku itu, kawanku satu kelas yang membuatku jatuh cinta, AS namanya. Siang dan malam aku teringat dia. Cantik sekali wajahnya dengan rambut panjang terurai. Tatapan matanya menunjukkan dia juga jatuh cinta kepadaku. Aku berbunga, dan aku makin bersemangat untuk belajar. It's so yesterday.

Ketika aku lulus sekolah. Aku bingung mau apa. Mau melanjutkan sekolah orang tua tidak sanggup lagi, mau kerja juga mau kerja apa. Aku akhirnya jadi tukan jualan mie ayam di Bekasi, ikut orang Cina. Aku dorong gerobak besar, sementara badanku kurus dan kerempeng. Tidak imbang. It's so yesterday.

Menjadi kuli bangunan adalah profesiku berikutnya, demi bisa sekolah. It's so yesterday. Masih ingat betul saat aku gelut di proyek bangunan dan tidak pernah menang. 

Aku masih ingat betul ketika aku SMA dan tinggal di pondok pesantren, keringatku sebesar-besar jagung, saat giliranku membaca Al Quran, sementara yang terlihat olehku, sebagai remaja yang buta huruf Al Quran, adalah benang kusut yang bisa dibaca. Ndledeg gak karu-karuan. It's so yesterday.

Bergaul dengan teman-temanku satu kelas yang sangat pinter-pintar dan jenius di jurusan bergengsi, Sastra Inggris, di salah satu universitas negeri di Jawa Tengah. Satu hobbyku adalah bolos saat kuliah dan nongkrong di warungnya Mbak I'un adalah hobbyku dan kawan-kawan. It's so yesterday.

It's so yesterday saat aku bertemu dengan seorang bidadari cantik yang benar-benar menancap kuat di dalam dadaku, SRI WIDYAWATI. Ia menjadi bagian hidupku, menjadi jantung hatiku untuk sekian tahun, dan kemudian ia "pergi" untuk "selamanya." 

Dan kini, semua terasa masih baru kemarin, rasanya kemarin banget. It's so yesterday.

You can change your life (if you wanna)
You can change your clothes (if you want to)
If you change your mind
Well that's way it goes.

"So Yesterday" - Hillary Duff

Indraprasta, Bogor, 24 Januari 2014