Kp. Cibuyutan: An isolated, in the Middle of Nowhere Village

Petulangan dua hari, Rabu dan Kamis tanggal 6-7 November 2013 benar-benar petualang  yang mengesankan. Berangkat dari rumah jam 9 pagi menuju ke Kampung Cibuyutan, Desa Sukarasa, Kabupaten Bogor, yang belum pernah kami injakkan kaki sebelumnya. Yang ada di benak kami adalah sebuah negeri antah berantah, negeri dongeng yang biasa diceritakan dari turun temurun oleh nenek moyang kami.

Pukul 14 siang tanggal 6 November 2013 kami tiba di rumah kepala desa, tetapi beliau sedang tidak ada di tempat. Akhirnya kami ditemui oleh Kang Yana, salah satu perangkat desa bagian Pembangunan. 

Seperti dugaan kami, masyarakat desa masih kental dengan keramahannya, dan Kang Yana ini sebagai perangkat pemerintahan desa yang bertugas menangani pembangunan di desa menceritakan sekilas tentang Kampung Cibuyutan ini. Ngedap rasanya, karena kami harus jalan sekitar 3 km, ata naik ojeg. 

Tahu gak kawan, ternyata naik ojeg pun harus ojeg spesial. Tukang ojeg desa bagian bawah tidak berani membawa penumpang naik ke Kampung Cibuyutan yang berada di lokasi pegunungan. Akhirnya Kang Yana menghubungi salah satu tukang ojeg profesional asal Kp. Cibuyutan, Mang Daim namanya.

Dari pusat pemerintahan sampai Kp. Cibuyutan katanya sekitar 8 km. Lalu kawanku yang bertugas di situ, Rahmad, naik ojek Pak Daim, dan aku sendiri mbonjeng Kang Yana. Rahmad adalah konsultan pengawasan untuk proyek pembangkit listrik tenaga surya di Kampung Cibuyutan itu, dan tugasku hanya menemani Rahmad saja.

Ternyata benar. Setelah melewati jalan beraspal dan mulai belok menuju ke Kampung Cibuyutan, sekitar 1 km jalan masih lebar, masih muat truk masuk ke dalamnya, tetapi sekitar 3-4 km sebelum Kampung Cibuyutan kami disambut oleh jembatan bambu, dan dari jembatan bambu itulah nightmare dimulai.

Jalan setapak yang begitu menanjak dan berkelok dan berbatu. Di kanan kiri terdapat batu-batu besar dan sebagian jurang. Kawanku, Rahmad setelah beberapa ratus meter perjalanan memilih turun dan jalan kaki. Lempoh. Mukanya berkirangat dan merah padam karena harus menggendong tas dan badannya yang bongsor menambah berat perjalanan ke atas. 


Di seperempat perjalanan ternyata sudah dijemput oleh tiga tukang ojeg. Pak Daim yang berbadan besar juga Rahmad yang berbada besar, total berat keduanya sekitar 190 kg, terasa sangat berat ditanggung oleh sepeda motor Vega ZR.



Maka sejak itu dioper. Aku mbonceng Pak Daim dan Rahmad bonceng pengojek satunya yang badannya kurus. Namun lagi-lagi di tengah jalan motor terasa sangat berat akhirnya Rahmad memutuskan untuk bawa motor sendiri sementara pengojeknya bonceng Kang Yana.


Sampai di lokasi, kami disambut oleh mantan RT yang begitu ramahnya menyambut kami. Lalu kami diajak ke rumah Pak RT baru, Pak Engkos namanya. 

Rasa capek perjalanan 8 jam terobati setelah mendapatkan sambutan yang begitu hangat oleh masyarakat. Kami pun ngobrol sampai sekitar jam 8 malam. 

Penerangan saat itu menggunakan jenset. Pak RT bilang jenset akan mati sekitar jam 10 malam. Jam 7 malam aku nyalakan laptop, hendak mengecek apakah ada koneksi internet menggunakan modem. 

Yang membuatku tersenyum ternyata ketika aku menyalakan laptop, sebagian penduduk kampung berdiri dan mengamati, ada juga yang di belakangku. Mereka tidak mengamatiku cara menyalakan laptop atau caraku mengetik, tetapi mengamati laptop itu sendiri. Salah satu warga berkata, "Ieu ngarana laptop".



Kampung Cibuyutan memiliki sejarah kelam. Zaman penjajahan Belanda kampung ini dihuni sekitar 300 KK dengan jumlah penduduk sekitar 1000 jiwa. Namun sejak zaman awal kemerdekaan, di zaman DI/TII, kampung ini dibumihanguskan, hanya tidak ada satu pun warga  yang menjadi korban, karena warga diungsikan. Kampung ini dibumihanguskan oleh tentara Indonesia waktu itu, dengan alasan keamanan.

Tahun 1980an Kp. Cibuyutan ini mulai dihuni kembali. Kala itu baru sekitar 10 KK, dan hari ini kampung ini sudah mencapai 105 KK dengan 349 jiwa. 

Kehidupan masyarakatnya bersahaja, meskipun mereka harus gelap-gelapan karena belum adanya listrik, dan mereka belum menikmati listrik dari pemerintah selama bertahun-tahun. Mereka menikmati listrik hasil swadaya dengan jenset, yang menyala ketika hendak maghrib dan jam 9 malam mati. 

Tetapi berkat perjuangan masyarakat dan perangkat desa, tahun 2013 ini masyarakat mendapatkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Ketika masyarakat tahu bahwa mereka hendak menerima bantuan pembangkit listrik tenaga surya, mereka dengan sukarela bekerja bergotong royong meratakan tanah hibah untuk lokasi pembangkitnya. Kontur tanah memang miring karena pegunungan.



Mereka juga bekerjasama membawa kabel dan peralatan lain yang berjarak sekitar 3-4 km dari lokasi secara bergotong royong. Mereka juga dengan sukarela bergotong royong memasang tiang-tiang listrik yang menjadi tiang pancang kabel mengaliri rumah-rumah mereka. 

Sehari semalam di kampung itu saya merasa damai, kembali ke satu tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota, yang masyarakatnya masih alami dengan keramahtahamannya.

Tanggal 7 November, pukul 08.51 kami meninggalkan lokasi Pak RT, turun gunung dengan berjalan kaki, dan sampai tempat kawanku tinggal sekitar pukul 17.50 WIB.

Kelak aku akan kembali lagi ke kampung ini, kata Pak RT bulan Januari atau Februari di kampung ini akan musim durian.