Madhep Mantep Mbegegeg Ugeg-Ugeg

Sengaja saya mengambil judul postingan "Madhep Mantep Mbegegeg Ugeg-Ugeg" yang memiliki makna teguh terhadap pendirian dan tujuan yang hendak dicapai. 

Saya ingat betul ketika itu saya baru lulus SD dan hendak dimasukkan ke SMP. Saat itu masih sangat jarang sekali anak-anak dari kampungku yang sekolah sampai jenjang SMP. Sebagian dari kakak kelas dan teman-temanku sebetulnya berasal dari orang yang cukup berada, dan jika hanya untuk biaya SMP mereka sangat mampu, tetapi ada beberapa faktor yang menyebabkan teman-teman tidak melanjutkan sekolah, di antaranya jarak yang begitu jauh, jalanan yang masih tanah yang jika turun hujan sepeda pancal pun tidak bisa jalan dan harus dipikul, serta sebagian lagi alasan percuma sekolah tinggi-tinggi karena tidak akan jadi "jendral".

Kala itu, dengan sepeda pancal "wangkring", yakni sepeda yang ada palangnya, aku membonceng bapak. Ibuku sebetulnya tidak setuju aku sekolah lagi. Aku anak kedua dari 6 bersaudara kala itu. Keluarga kami termasuk keluarga yang sangat pas-pasan bahkan minim. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja diusahakan seirit mungkin, adikku juga masih kecil-kecil dan butuh biaya banyak. Namun bapak bersikeras bahwa meskipun kondisi tidak memungkinkan, bapak ingin anak-anaknya punya pengertian. Sebab bapak berpikir kalau mewarisi harta mungkin tidak bisa, paling tidak mewarisi pengetahuan. 

Dalam perjanan itu bapak berulang kali berpesan, "Nang, kamu bapak sekolahkan, tapi harus bener-bener sekolah. Kudu madhep mantep mbegegeg ugeg-ugeg."

Aku pun hanya bilang, "Njjih Pak."

"Ibumu tidak menyetujuimu sekolah, tapi bapak tetap mengusahakanmu agar bisa sekolah. Kamu harus sungguh-sungguh. Jangan mudah kena goda. Madhep mantep artinya bahwa kamu harus fokus pada tujuanmu, ibarat ono gunung gugruk, segoro amber kowe kudu tetep eling karo tujuanmu  (gunung gugur dan lautan meluap kamu harus tetap fokus pada tujuanmu)"

Sepanjang jalan itu, bapak terus menasihatiku. 

"Ojo leno karo godho, ojo gampang owah karo opo sing mbok karepi. (Jangan terlena dengan godaan jangan mudah berubah pikiran dengan apa yang kamu harapkan.)

Dengan perjuangan, akhirnya aku lulus. Selama tiga tahun harus berjuang menempuh jarak 25 km pulang pergi. Berangkat dari rumah jam 6 pagi sampai sekolahan jam 7, masuk jam 7.15 dan keluar dari sekolahan jam 1.30 siang, lalu sampai rumah jam 3. Seringkali berangkat sekolah tidak sarapan, dan selama sekolah itu aku tidak pernah memiliki uang saku. Pulang dengan sepeda pancal dan kondisi lapar. 

Jika musim kemarau lumayan bisa naik sepeda dari sekolah sampai rumah, tapi jika musim hujan berangkat dari rumah harus lebih awal dan memikul sepeda pancalku 3 kilo jaraknya. Pernah satu kali naik sepeda pas banjir dan kecemplung ke sungai, dah hanyut. Badan basah kuyup, buku teles kebes. Tetapi karena tujuanku dari rumah adalah berangkat sekolah, apapun yang terjadi aku harus sampai ke sekolahan, meski di dalam kelas harus berbasah-basah. Dan masih banyak lagi kejadian lain yang sebetulnya aku bisa menjadikannya alasan untuk tidak sampai sekolahan. Kuingat-ingat pesan bapak. Akhirnya aku lulus SMP.

Dan "Madhep mantep mbegegeg ugeg-ugeg" menjadi prinsipku hingga bisa menyelesaikan S1. Pedih, perih, tetesan keringat, air mata dan darah benar-benar bisa menjadi alasan kuat untukku menyerah. Semua itu adalah godaan. Sekali lagi aku ingat pesan bapak, "Ibarat ono gunung gugrug, segoro amber kowe kudu tetep eling karo tujuanmu."

Madhep mantep. Keep fighting, no matter what!

Semua orang punya tujuan, semua orang pasti memiliki satu keinginan kuat. Jika punya tujuan yang jelas, lalu fokuslah pada tujuannya. Apapun godaannya, yang bisa menjadi alasan dan pembenar untuk berhenti, entah itu lawan jenis, entah itu finansial, entah itu kondisi kesehatan, atau apapun, tetaplah maju. Tidak ada perjuangan yang sia-sia.