Ternyata Kaum Pria Itu Ditindas Kaum Wanita Lho

Judul postingan saya mungkin terdengar asing ya? Kenapa? Sejak kapan kaum pria ditindas oleh kaum wanita? Bukankah sejak zaman dulu kala selalu kaum wanita yang ditindas oleh kaum pria?

Ya, sepakat. Saya sangat sepakat bahwa itu adalah ungkapan umum banyak kaum wanita yang ingin "bebas" seperti kaum pria. Tetapi ingat kaum wanita punya banyak keterbatasan: mudah menangis, fisiknya lebih lemah, katanya kalau pas lagi "dapet" uring-uringan, dan banyak lagi lainnya. 

Tetapi Tuhan menciptakan manusia, baik laki-laki maupun perempuan dengan seadil-adilnya. Kok bisa? Kan  wanita dilarang bergerak seperti pria, makanya sekarang ada istilah emansipasi wanita kan?

Saya katakan benar, itu terjadi sekarang ini. Tetapi saya sedikit ingin cerita:

Saat saya kuliah semester 7, ada salah salah satu mata kuliah yang namanya "Critical Theory" atau kritik sastra. Di dalamnya ada sebuauh teori yang ditulis oleh Jaques Derrida namanya "deconstruction analysis" atau teori membalikkan. Teori ini membahas sesuatu yang terbalik daripada umumnya, atau membalikkan fakta umum. Ini memang teori aneh, teori kritik sastra zaman postmodernisme.

Jika selama ini kita dengar banyak orang mengembar-gemborkan emansipasi wanita karena kaum wanita merasa tertindas, apakah itu benar? Apakah benar bahwa kaum wanita tertindas hanya karena mereka tugasnya adalah melahirkan, mengurus suami dan anak, mengurus dapur, sumur, dan kasur? Sekali lagi saya sependapat.

Tetapi, menilik ke kodrat wanita dengan segala kelebihan dan kelemahannya memang pas untuk tugas itu. Bayangkan jika para suami diminta menggantikan posisi wanita, mampukah? Sebagian besar akan mengatakan tidak! Tidak mampu seorang suami mengurusi anak, menyusui, memasak, mencuci dan semuanya untuk istrinya. Suami yang melayani istri, sementara istri yang mencari nafkah. Tuhan memang Maha Adil, menciptakan kaum pria dan wanita sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan agar saling melengkapi.

Dengan kodrat itulah benarlah teori dekonstruksi ala Derrida ini bahwa sebenarnya yang "ditindas" itu kaum pria. Tetapi ditindas ini menegasikan sisi negatif dari penindasan. Ketika kita mendengar kata menindas atau ditindas tentu bayangan kita adalah sesuatu yang negatif dan menyengsarakan bukan?

Penindasan kaum pria oleh wanita dalam rumah tangga ini masuk ke dalam teori dekonstruksi, sehingga muncullah istilah hegemoni. Hegemoni adalah sebuah proses tindakan penindaasan, tetapi yang ditindas justru senang atas penindasan itu. 

Coba tanyakan kepada para suami, kepada para ayah, apakah mereka bersedih ketika mereka harus kerja keras banting tulang untuk istri dan anak-anaknya? Tidak sama sekali. Mereka justru akan semakin keras bekerja ketika kebutuhan istri dan anak bertambah, dan terus semakin keras agar istri dan anak-anaknya bahagia. 

Maka, dari simpulan itu, sebetulnya kaum prialah yang "ditindas" oleh kaum wanita. Tetapi berhubung kaum pria menikmati penindasan kaum wanita, maka disebut hegemoni.

Mantap sekali memang Jaques Derrida, yang saat itu dianggap orang gila, dan saya pun dulu saat baru dengar teori itu berpikir dia orang gila juga dengan teorinya membalikkan berbagai fakta yang ada. 

Satu lagi ya, orang yang sedang kasmaran ia akan dengan senang "ditindas" oleh yang dicintainya, asal yang dicintainya senang, apapun akan dilakukan. Maka dia terhegemoni.