"Nagih Janji" Mengingatkanku Kepada Pengkhianatanmu

Saat aku mendengar lagi ini, "Nagih Janji" yang dinyanyikan oleh Lilin Herlina dan Agung Juanda, pikiranku melayang ke masa lalu. Hatiku terasa teramat sangat sakit. Aku ingat semuanya, aku ingat saat-saat kita bersama, aku ingat saat-saat aku disia-sia oleh keluargamu, aku ingat saat aku hatiku sakit oleh penghinaan keluargamu, dan aku ingat saat akhirnya engkau mengkhianatiku

Saat ini aku masih merantau ke kota, mencari penghidupan, yang dulunya adalah aku maksudkan untukmu dan anak kita. Tetapi kini semuanya berubah. Jika aku boleh menangis, aku akan menangis. Aku akan tetestkan air mata. Tetapi terasa lebih pedih saat air mataku ini tidak lagi bisa menetes, yang terus menangis adalah batinku.


Bukan aku merasa terlalu jelek untuk tidak bisa mendapatkan penggantimu, bukan pula aku sangat ketakutan kehilanganmu. Aku sadar ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus aku alami.

Tetapi, tidak ingatkah engkau pengorbananku untukmu, hutangku numpuk aku lakukan untukmu. Aku sebagai seorang guru SMP-SMA-SMK yang kerja dari pagi sampai sore, bahkan malam karena aku harus melatih ekstrakurikuler juga di hari Minggu, dengan penghasilan yang sangat minim, penghasilan yang untuk orang yang masih sendiri pun masih kurang, aku lakukan. Aku hutang ke sana kemari untuk memenuhi setiap kau meminta uang atas nama anak, untuk ini dan itu. Aku hidup dengan beban hutang, dan sampai hari ini hutang-hutang itu belum terlunasi.

Tidak ingatkah engkau bahwa aku keluar dari rumah 19 tahun lalu dengan modal ijazah SMP, menjadi kuli bangunan, ngenger ikut orang agar bisa sekolah, agar bisa kuliah, dan akhirnya aku harus mengabdi seumur hidupku di tempat orang yang membiayai pendidikanku sampai aku lulus sarjana. Aku "terjebak" bahwa dulu aku siap membantu semampuku, ternyata setelah selesai, walau tidak ada hitam di atas putih aku harus menebus dengan seluruh hidupku, dengan bekerja seperti robot, dengan bayaran yang sangat-sangat tidak layak, aku keluar dan dengan "datang membawa ijazah SMP dan pulang pun membawa ijazah SMP" meskipun aku seorang sarjana, itu aku lakukan untukmu dan anak kita

Tetapi apa yang aku dapatkan? Engkau begitu dingin. Seluruh keluargamu dingin, mengacuhkanku, bahkan kau melarangku pulang. Aku merasa ada yang aneh. Engkau telah berubah. Engkau bukan Widya yang dulu, yang begitu tulus menyayangiku. Aku merasa ada yang berubah darimu.

Ternyata.... Ternyata di saat aku tidak berdaya, di saat aku menjadi pengangguran, di saat aku sebagai seorang miskin yang berijazahkan SMP, engkau menendangku. 

Kalian guru yang seharusnya "digugu lan ditiru" tetapi tidak seperti yang seharusnya. Widya, engkau begitu bukanlah Widya yang aku kenal dulu, yang begitu setia, yang tidak akan goyah oleh apapun. Dan Widya dan kamu Dhani, mulutku boleh mengatakan ikhlas, tetapi dunia akhirat aku tidak akan pernah ikhlas atas perbuatan kalian. 

Sakit. Teramat sangat sakit. Sakit luar biasa. Air mata ini sudah tidak lagi bisa menetes. Hatiku sudah terluka teramat parah. Aku tidak bisa memaafkan kalian sampai kapan pun.

"Nagih Janji" - Lilin Herliana & Agung Juanda

Lilin:

Kelingan rikolo urip bebarengan 
Bungah susah kabeh rak dadi alangan
Senajan sedino mung mangan sepisan
Ati seneng anggone urip bebrayan

Nanging saiki uripmu uwis mulyo
Banjur lali rikolo jaman semono
Mangan enak turu penak kerjo penak
Njur lalu marang aku sing ngrumat anak

Tego tenan sliramu marang awakku
Mbok tinggal lungo suwe opo dayaku
Saiki tak tagih sing dadi janjimu
Lali aku ojo lali anakmu

Anakmu saiki wis gedhe-gedhe
Pengin nyuwun pirso sopo toh bapake
Udan tangis atiku tambah nelongso
Neng atiku yo soyo mbok sio-sio


Agung:

Yo ngerti wis suwe anggonku lungo
Nggon urip adu nasib ono kutho
Aku ninggal anak bojo lan wong tuo
Urip neng ndeso tansah keloro-loro

Pancen saiki uripku wis mukti
Nanging ojo mbok anggep aku wis lali
Jroning ati tansah ono sliramu
Luwih-luwih dadi sumpah jroning atiku

Pancen wis dadi sumpah jroning atiku
Yen durung biso keturutan karepku
Aku rak bakal lali mring wekasanmu
Mung tak jaluk sabar ngenteni tekaku

Yen anakmu takon sopo bapake
Kuwi kabeh ngono wis ono tengere
Kandanono aku sik nyambut gawe
Go mulyake anakmu kelawan kowe

Kini aku belum jadi apa-apa, aku belum jadi siapa-siapa. Aku sekarang bertarung dengan kejamnya ibukota. Setiap hari belum tentu aku makan sekali. Bahkan kini, saat aku menuliskan ini, hari Jumat ini, aku sudah tidak makan sejak Rabu sore. Aku hanya makan satu bungkus kacang dan beberapa gelas kopi, sudah tidak ada lagi uang di kantong. Yang aku punya hanya netbook Lenovo S110 ini yang selalu setia menemaniku ke man apun aku pergi.

Menangis. Air mataku terus menetes. Hatiku terus menangis saat ingat semua itu. Aku ingat semua itu merasa teramat sangat takut, seperti takutnya orang yang akan mati, seperti takutnya orang yang hendak digorok lehernya, seperti takutnya orang yang paling takut di dunia ini saat melihat hantu. Aku takut.

Allah Tuhanku, sembuhkanlah ketakutanku ini. Aku hanya berlindung kepada-Mu. Allah Tuhanku, jadikanlah rasa takut ini hanya kepadamu. Aku tahu ini adalah kehendak-Mu. Aku tahu Engkau memiliki tujuan besar untukku, tetapi segeralah tolong hamba-Mu ini.